Suporter Timnas Indonesia memberikan dukungan saat berlangsung pertandingan Timnas U19 Indonesia melawan Timnas U19 Cina dalam laga PSSI 88th U19 International Tournament di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 25 September 2018. (ANTARA)[/caption]
kabargolkar.com - Kasus pengeroyokan berujung kematian seorang pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirla saat laga Persib kontra Persija di Bandung beberapa waktu lalu menjadi sorotan banyak pihak. Pembekuan liga hingga waktu yang belum ditentukan menjadi pilihan yang mesti diambil. Menyikapi ini, Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian menilai perlu penyelesaian menyeluruh agar kejadian serupa tak terulang lagi dan lagi.
Legislator PKS asal Jawa Barat ini menilai pihaknya mengapresiasi langkah tegas yang dilakukan pemerintah dengan memberhentikan sementara liga, apalagi jika kondisinya dianggap darurat. Meski demikian, tentu banyak pihak yang dirugikan dengan keputusan ini.
"Tentu saja bukan hanya merugikan sponsor tetapi juga masyarakat luas. Karena saya menekankan sebetulnya ini memang perlu diuji dengan sungguh-sungguh. Karena masyarakat juga punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan dan hiburan yang harusnya dilindungi pemerintah," kata Hetifah dalam diskusi "Dialektika Demokrasi" yang digelar di Ruang Wartawan Kompleks Parlemen RI, Kamis 27 September 2018.
Menurut Hetifah, tentunya keputusan ini harus diperhitungkan dampak regulasinya. Oleh karena itu perlu klarifikasi agar tidak merugikan persepakbolaan secara nasional.
Hetifah juga mengajak agar seluruh pihak bisa mawas diri. Bisa jadi edukasi untuk penguatan kepemudaan kita belum berjalan dengan baik. Belum lama ini, kata dia, pihaknya menyandingkan anggaran maupun kebijakan pemberdayaan dan penguatan pemuda dengan olahraga, yang cenderung lebih menekankan ke aspek olahraganya saja.
"Ini yang menjadi catatan penting dan kritis. Mungkin ada sesuatu yang salah dan ada kelalaian kita juga, termasuk kami di DPR. Menekankan satu aspek tapi melupakan dan abai pada aspek yang lain," ucapnya.
Berdasarkan data yang dia lihat, perseteruan antar pendukung sepakbola di tanah air memang cukup memprihatinkan. Sepanjang medio 2016-2018 saja, sudah ada 22 korban jiwa, yang tujuh di antaranya melibatkan Bobotoh Persib dan Jakmania.
"Sebelum ini mungkin Ricko (Ricko Andrean Maulana, bobotoh Persib yang meninggal pada 2017). Waktu itu kita ingat justru dia mau membantu dan malah jadi korban. Itu juga mungkin yang secara psikologis menyebabkan orang jadi berpikir ulang ketika hendak menolong karena pernah ada pengalaman itu di Bandung," ucap dia.
sumber berita