"Krisis global juga ditandai pelambatan perekonomian dunia. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya sebesar 3,2 persen, dan diperkirakan akan semakin melemah pada tahun 2023 dengan proyeksi sebesar 2,7 persen. Bank Dunia juga memperkirakan produk domestik buto dunia menyusut menjadi 0,5 persen setelah terkontraksi 0,4 persen," terang Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI ini menambahkan, Organisasi Perburuhan Internasional memproyeksikan tingkat pengangguran global dapat mencapai 207 juta orang pada tahun 2022, di mana 73 juta di antaranya adalah kelompok usia muda. Kondisi perekonomian global juga terancam oleh lonjakan inflasi, atau bahkan inflasi yang super tinggi di beberapa negara. Krisis energi, krisis pangan, dan krisis keuangan global menyebabkan lebih dari 60 negara terancam akan mengalami kebangkrutan ekonomi dan ambruk. Sedangkan 28 negara tercatat telah mengajukan permintaan bantuan keuangan ke IMF.
"Selain krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan, dunia juga terjangkit krisis kepercayaan antar komunitas global. Adanya perasaan saling curiga telah memantik terjadinya ketegangan politik yang jika tidak dikelola dengan baik dan benar, akan berpotensi menimbulkan konflik. Menjadikan lanskap politik dan keamanan global semakin mengkhawatirkan. Misalnya ditandai hadirnya wacana penggunaan senjata nuklir pada perang Rusia dan Ukraina. Di Semenanjung Korea, eskalasi politik juga semakin meningkat, ketika Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antar benua yang dapat menjangkau wilayah Amerika. Di sisi lain, Korea Selatan semakin intensif melakukan latihan militer bersama Amerika Serikat," pungkas Bamsoet.