"Optimisme proyeksi ekonomi didorong oleh beberapa faktor. Antara lain, tingginya tingkat konsumsi rumah tangga yang menurut data BPS mencapai 5,4 persen. Konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 57 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Hilirisasi dan perbaikan iklim investasi pada berbagai sektor perekonomian, misalnya di sektor otomotif, dimana pertumbuhan investasi pada mesin dan kendaraan komersial masing-masing sebesar 36,5 persen dan 17,1 persen (year on year). Demikian juga kredit perbankan yang tumbuh 11 persen turut mendukung pemulihan investasi pada kuartal III tahun ini," terang Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Wakil Ketua Umum FKPPI ini menambahkan, faktor lainnya yakni pengendalian inflasi serta perluasan program perlindungan sosial, antara lain melalui peningkatan subsidi energi, bantuan subsidi upahan dan Bantuan Langsung Tunai atau BLT, dan Bansos Pemda. Serta pemerataan pemulihan perekonomian pada berbagai sektor, tidak hanya dari sisi konsumsi, namun juga dari sisi produksi. Berdasarkan catatan BPS, seluruh sektor produksi berhasil tumbuh positif di kuartal III tahun 2022, di mana sektor manufaktur yang menjadi sektor unggulan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8 persen.
"Ditengah berbagai optimisme, pemerintah harus terus melakukan pemberdayaan UMKM sebagai sendi perekonomian nasional. UMKM memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi. Pemerintah juga perlu terus mendorong konsumsi rumah tangga sebagai poros roda pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga dapat distimulasi oleh pemerintah melalui berbagai program perlindungan sosial untuk menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus mendorong konsumsi masyarakat, seperti bantuan sosial, BLT dana desa, subsidi dan program keluarga harapan, yang semuanya dilakukan dengan tepat sasaran," pungkas Bamsoet.