kabargolkar.com - Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto masuk dalam tiga besar calon presiden (capres) pilihan Musyawarah Rakyat (Musra) Sukarelawan Presiden Jokowi. Airlangga sangat kompetitif di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat.
Menanggapi pilihan Musra itu, politisi Partai Golkar, Melkiades Laka Lena mengatakan, kini banyak masyarakat Indonesia yang melek politik, termasuk di NTT.
Melki menjelaskan, masyarakat akan melihat siapa tokoh politik hari ini yang maju sebagai capres, yang benar-benar bekerja. “Dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia, Airlangga Hartarto,” kata Melki kepada wartawan, beberapa waktu lalu jelang akhir tahun.
Menurut dia, yang mendongkrak popularitas Airlangga Hartarto adalah hasil kerjanya yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Khususnya dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Ketua KPC PEN.
“Salah satu yang penting bekerja di era Pak Jokowi adalah Pak Airlangga Hartarto, tentu dengan tetap menghormati semua pihak yang telah bekerja baik di dalam maupun di luar kabinet, yang membantu Pak Jokowi,“ katanya.
Wakil Komisi IX DPR RI ini menambahkan, sosok Airlangga Hartarto sangat layak menjadi penerus Presiden Joko Widodo.
Dalam pandangan Melki, masyarakat yang melek politik akhirnya melihat bahwa siapa tokoh yang tidak banyak bicara atau membuat pencitraan. “Seperti Pak Airlangga ini ternyata lebih pas untuk menjadi presiden kita ke depan,” jelas Melki.
Bangun Politik Menyatukan
Secara terpisah, Sekjen Partai Golkar, Lodewijk F. Paulus menegaskan, dari sisi numeral logic, nomor 4 itu adalah nomor yang membawa rasa nyaman dan stabilitas. Kata Lodewijk, bangsa Indonesia memerlukan stabilitas dan keamanan.
Makna dari nomor urut 4, diibaratkan oleh mantan Danjen Kopassus itu dengan kondisi seorang yang nyaman karena ada empat kaki yang menopang.
Selain itu, dalam Pemilu 2024 yang dicari adalah empat kursi. “Kita sedang mencari kursi untuk RI 1 dan maupun anggota DPR, baik DPR pusat maupun Provinsi maupun kabupaten kota,” jelas pria yang juga Wakil Ketua DPR RI itu, akhir tahun lalu.
Dia berharap, ke depan apa yang harus dibangun berkaca pada Pemilu 2019. Jangan sampai masyarakat terpecah dengan politik identitas dan terjadi polarisasi antara si A dan si B. “Mari kita bangun politik yang menyatukan, politik yang membahagiakan, politik yang penuh dengan ide dan gagasan,” demikian kata Lodewijk.