"Saatnya Golkar Majalengka harus menang. Hanya untuk bisa menang tentu ada strateginya. Dikpol ini sekali lagi adalah pembekalan yang baik agar berpolitik kita bisa lebih efektif, termasuk bagaimana agar kita bisa melakukan pemetaan politik yang benar," ungkapnya.
Untuk bisa menang, katanya, tak boleh ada konflik antar internal kader. Ia pun mengimbau para fungsionaris bekerja secara optimal dengan pemetaan wilayah yang baik, karena hal ini akan membuat kerja politik tertib, disiplin, kompak, dan solid.
"Jangan sampai ada istilah 'pacorok kokod' (saling berebut pekerjaan atau meninggalkan tugas milik orang lain, red) di daerah yang diperebutkan padahal ada basis lain yang tidak atau belum terjamah," sebutnya.
Ia pun meminta kadernya tidak risau dengan isu sistem pemilu Proporsional Tertutup atau Terbuka. Pasalnya Partai Golkar konsisten berjuang dengan sistem proporsional terbuka.
"Gak perlu risau dengan isu yang berkembang saat ini, yang harus kita siapkan saat ini adalah bagaimana agar Majalengka bisa kembali menjadi basis Golkar. Inilah pentingnya kerja kolektif. Jangan bermain sendiri-sendiri, itu sebabnya kita harus kompak dan mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi," pesannya.
Sebagai informasi, ratusan fungsionaris Partai Golkar Majalengka akan mendapat berbagai materi penting selama dua hari. Mulai dari Materi KIB dan Profil Airlangga Hartarto oleh DR. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, Tugas dan Fungsi Fungsionaris Partai Golkar M oleh Ir. H.M.Q. Iswara, AIFO, serta Materi Sejarah, Ideologi, Visi Misi, Doktrin Partai Golkar oleh H. Daniel Mutaqien Syaifuddin, ST.
Peserta Dikpol juga akan mendapatkan materi lain, seperti Operasi Udara, Operasi Darat, Manajemen Kampanye, Pembentukan Tim Kampanye, hingga materi Target Pemenangan Partai Golkar yang disampaikan Yomanius Untung.