Kabar Golkar

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Dorong Pelaku Usaha Berinovasi

Oleh · · Kabar Nasional

Gredit Photo / Istimewa
Gredit Photo / Istimewa

Airlangga menjelaskan, bila transformasi ekonomi juga harus mencakup hilirisasi, yang menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dalam ekspor. Selain memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia juga telah menjadi negara produsen nikel nomor satu dunia dengan mencatatkan ekspor komoditas nikel mencapai USD33.81 miliar pada tahun 2022.

Guna meningkatkan daya saing di panggung global, Indonesia juga terlibat aktif dalam berbagai forum internasional termasuk dengan mendorong competitiveness di ASEAN.

Tak hanya itu, Indonesia juga tengah dalam proses untuk bergabung dengan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) guna mempercepat transformasi menjadi negara maju.

“Saya berharap bahwa HSBC bisa terus memfasilitasi para pengusaha termasuk Small and Medium Enterprises karena itu menjadi yang terpenting untuk employment. Kedua, membawa lebih banyak lagi investor ke Indonesia karena investor atau investasi adalah meng-create jobs, dan jobs itu adalah salah satu yang paling penting yang diperlukan agar ekonomi dapat tumbuh dan secara politik akan stabil,” tuturnya.

Menko Airlangga pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga fundamental perekonomian Indonesia ditengah menguatnya mata uang Dollar Amerika Serikat saat ini. 

“Isunya US Dollar kuat terhadap berbagai currency termasuk Jepang. Jadi kita tenang-tenang saja, yang penting kita jaga fundamental kita dengan baik,” katanya. 

Airlangga menekankan, untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan, Indonesia membutuhkan kenaikan kontribusi industri dari 18 persen ke 25 persen sehingga Revolusi Industri ke-4 menjadi penting. Indonesia juga terus mendorong supply chain dan implementasi Devisa Hasil Ekspor agar buffer perekonomian Indonesia menjadi lebih kuat.

“Kalau Indonesia dan ASEAN kan salah satu regional yang dalam 20 tahun terakhir stabil. Dan Indonesia optimis karena stability harus bergeser epicentrum-nya ke Indo-pasifik atau ke ASEAN,” pungkasnya.