kabargolkar.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan penggunaan batubara sebagai sumber energi harus sejalan dengan komitmen kebijakan Net Zero Emission (NZE).
Dia menjamin pasokan energi dalam negeri tetap terjaga di tengah rencana 13 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pensiun dini. "Seiring dengan upaya Indonesia menuju net zero, kami berkomitmen untuk memastikan keamanan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga," ujar Bahlil di Acara Coaltrans Asia 2024 di Bali, Senin (9/9), melansir situs resmi Kementerian ESDM.
Bahlil menjelaskan langkah yang akan diambil meliputi pengurangan secara bertahap dan penerapan Clean Coal Technology (CCT) pada pembangkit yang masih beroperasi.
"Batubara akan tetap memiliki perannya sesuai dengan bauran energi kita. Namun menuju net zero akan didukung oleh kebijakan, investasi, dan teknologi PLTU ramah lingkungan," imbuhnya.
Sebanyak 13 PLTU direncanakan akan dipensiunkan secara dini secara bertahap dengan mempertimbangkan perekonomian serta tidak menimbulkan gejolak kekurangan pasokan dan kenaikan harga listrik. Sedangkan untuk PLTU yang beroperasi akan diterapkan teknologi CCT, antara lain dengan mengimplementasikan teknologi supercritical dan ultra-supercritical.
Berikut tujuh PLTU batubara yang telah beroperasi menggunakan teknologi supercritical dan ultra supercritical dengan total kapasitas 5.4555 megawatt (MW) :
1. PLTU Cirebon (660 MW)
2. PLTU Paiton 3 (815 MW)
3. PLTU Cilacap 3 (660 MW)
4. PLTU Adipala (660 MW)
5. PLTU Banten/LBE 1 (660 MW)
6. PLTU Jawa 7 Unit 1 (1.000 MW)
7. PLTU Jawa 8 (1.000 MW)
Pemerintah juga berencana untuk mengembangkan PLTU barubara dengan menggunakan teknologi boiler ultra-supercritical pada sembilan lokasi di Pulau Jawa dengan total kapasitas sebesar 10.130 MW hingga 2028 atau sebesar 37,43 persen dari total perencanaan PLTU batubara.
Selain mendorong PLTU menggunakan teknologi ramah lingkungan seperti CCT, Kementerian ESDM juga mendorong pelaksanaan cofiring atau pencampuran bahan bakar PLTU batubara dengan biomassa.
Disamping hal tersebut, Indonesia memiliki perkebunan sawit yang dapat diolah menjadi biomassa. Strategi ini terbukti dapat mengurangi emisi yang dihasilkan oleh PLTU dan mendukung program teknologi ramah lingkungan.
Tercatat hampir 60 persen atau sekitar 91 gigawatt (GW) pembangkit listrik di Indonesia bersumber energi batubara.