Kabar Golkar

Bahlil: "Saatnya Indonesia Naik Kelas Melalui Hilirisasi Disegala Bidang”

Bahlil: "Saatnya Indonesia Naik Kelas Melalui Hilirisasi Disegala Hidang”

Oleh · · Kabar Nasional

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat meneima buku ‘Indonesia Naik Kelas’ dari penulis buku Dany Amrul Ichdan di Jakarta, (21/11)
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat meneima buku ‘Indonesia Naik Kelas’ dari penulis buku Dany Amrul Ichdan di Jakarta, (21/11)

Untuk mengatasinya, dibutuhkan orkestrasi kelembagaan dan harmoni regulasi. Peran krusial lainnya adalah mengubah pola pikir terkait regulasi. Regulasi harus diposisikan sebagai chief rule (pengatur utama), bukan sekadar follow the rule (mengikuti aturan yang dibuat negara lain).

”Saat ini medan perang kita standardisasi dan regulasi. Siapa yang mengatur standar teknis dan regulasi, dialah yang menguasai pasar,” katanya. 

Pertumbuhan 8 persen

Dany menambahkan, buku Indonesia Naik Kelas sekaligus menghadirkan peta jalan pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen selama delapan tahun (2025-2033). Ia meyakini, ekonomi Indonesia akan naik kelas jika dibangun melalui industrialisasi, hilirisasi, dan konsistensi kebijakan nasional.

Menurut Dany, hilirisasi dan industrialisasi adalah instrumen utama kedaulatan ekonomi yang akan membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

Dalam bukunya itu, ia juga menguraikan delapan akselerator pertumbuhan, mulai dari investasi berkualitas, kawasan industri inovatif, reformasi fiskal, hingga ekspor bernilai tinggi. 

Tak hanya itu, Dany juga memperkenalkan tiga konsep dasar, yakni distinctive, adaptive, inclusive. Dasar pembangunan nasional harus diletakkan pada keunggulan domestik, ketangguhan menghadapi perubahan global, serta pemerataan manfaat bagi seluruh rakyat. ”Kita memasuki era delapan tahun stabilitas momentum emas untuk pembangunan industri Indonesia,” ujarnya.

Editor buku Reda Manthovani, yang juga menjabat Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung, menyebutkan, sebuah bangsa tidak akan bisa melompat ke kelas yang lebih tinggi jika masih ada tumpang tindih kebijakan dan institusional yang berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, ambisi ekonomi Indonesia itu dinilai sulit tercapai tanpa adanya keselarasan regulasi dan tindakan antarlembaga.

Fenomena regulasi yang tidak selaras itu diibaratkan Reda seperti orkestra tanpa dirigen. Para pemainnya mungkin memiliki kemampuan yang mumpuni, tetapi tanpa panduan yang selaras, mereka cenderung saling mendahului atau bahkan saling menunggu. 

Tag: Hilirisasi, ESDM, Ekonomi, Indonesia, Bahlil