JAKARTA — Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya
alam, kekuatan demografi, dan posisi geopolitik yang strategis, Namun, Indonesia dinilai belum mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Tanpa keselarasan regulasi yang komprehensif, pertumbuhan ekonomi akan terus terhambat oleh tarik-menarik kepentingan tertentu.
Saat peluncuran buku berjudul ‘Indonesia Naik Kelas’, di Jakarta, Jumat (21/11/25) malam, penulis buku Dany Amrul Ichdan mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi nasional dalam satu dekade terakhir yang hanya di kisaran 5 persen menjadi alarm keras.
Indonesia masih terperangkap dalam situasi yang disebutnya stagnasi struktural. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, bonus demografi, dan stabilitas politik yang relatif baik.
”Kita saat ini memang sudah berlari, tapi sayang berlarinya itu seperti kita olahraga treadmill. Kita berlari kencang, berkeringat, tapi kita tidak maju,” kata Dany yang juga Wakil Direktur Utama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.
Hadir dalam acara itu sejumlah menteri dan wakil menteri dari Kabinet Merah Putih, seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif Hiariej, serta Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Fahri Hamzah. Hadir juga Komisaris Utama PT MIND ID Fuad Bawazier.
Mantan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan itu melanjutkan, ada empat faktor utama yang saling mengait dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5 persen. Faktor pertama, insentif ekonomi belum optimal untuk mendorong investasi dan industrialisasi yang berkualitas.
Kedua, kapasitas dan kompetensi industri domestik masih belum kuat sehingga menyebabkan ketergantungan tinggi pada investasi dan investor asing. Kemudian, mekanisme pasar domestik belum sepenuhnya menguntungkan atau memihak pada produk manufaktur dalam negeri yang menghambat pertumbuhan industri substitusi impor. Terakhir, faktor paling fundamental adalah rendahnya budaya inovasi.
Untuk mengatasinya, dibutuhkan orkestrasi kelembagaan dan harmoni regulasi. Peran krusial lainnya adalah mengubah pola pikir terkait regulasi. Regulasi harus diposisikan sebagai chief rule (pengatur utama), bukan sekadar follow the rule (mengikuti aturan yang dibuat negara lain).
”Saat ini medan perang kita standardisasi dan regulasi. Siapa yang mengatur standar teknis dan regulasi, dialah yang menguasai pasar,” katanya.
Pertumbuhan 8 persen
Dany menambahkan, buku Indonesia Naik Kelas sekaligus menghadirkan peta jalan pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen selama delapan tahun (2025-2033). Ia meyakini, ekonomi Indonesia akan naik kelas jika dibangun melalui industrialisasi, hilirisasi, dan konsistensi kebijakan nasional.
Menurut Dany, hilirisasi dan industrialisasi adalah instrumen utama kedaulatan ekonomi yang akan membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
Dalam bukunya itu, ia juga menguraikan delapan akselerator pertumbuhan, mulai dari investasi berkualitas, kawasan industri inovatif, reformasi fiskal, hingga ekspor bernilai tinggi.
Tak hanya itu, Dany juga memperkenalkan tiga konsep dasar, yakni distinctive, adaptive, inclusive. Dasar pembangunan nasional harus diletakkan pada keunggulan domestik, ketangguhan menghadapi perubahan global, serta pemerataan manfaat bagi seluruh rakyat