Hanya saja, Pemilu 2019 ini, masyarakat semakin terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan politik. Media sosial menjadi sarana utama untuk menyuarakan pendapat tersebut. Kemungkinan terjadinya gesekan pun tidak dipungkiri.
Tidak ada salahnya masyarakat berani terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan melalui medsos. Tapi, butuh kedewasaan untuk menyikapi perbedaan. Karena, media sosial adalah ruang publik, dimana orang lain pun berhak menyuarakan opininya. Asalkan opini tersebut tidak disertai dengan menyebarkan ungkapan kebencian atau merendahkan, bahkan menyebarkan hoaks atau berita bohong yang memancing emosi. Masyarakat dituntut untuk semakin cerdas dalam berpolitik, agar tidak mudah termakan emosi akibat informasi hoaks.
Menang tunaikan janji, kalah jadi oposisi kritis
Beri kesempatan bagi pemenang Pemilu untuk bekerja dan menunaikan janjinya. 5 tahun adalah waktu untuk membuktikan janji-janji tersebut. Sedangkan bagi pihak yang kalah, menjadi oposisi yang cerdas dan kritis sejak hari pertama. Dengan demikian langkah pemenang akan dapat dikontrol dengan baik oleh oposisi. Bila ini terjadi, akhirnya masyarakat yang akan diuntungkan, siapa pun pemenangnya. Karena semuanya bekerja untuk kebaikan rakyat. Tidak perlu berselisih atau terjadi gesekan hanya karena berbeda pilihan.
Jadi, mari kita saling menghargai pilihana yang berbeda. Sukseskan pemilu damai, berpolitik dengan santun, tanpa harus membenci siapa pun yang berbeda dengan kita. (kabargolkar)