KPPG Sumatera 2 Lakukan Ini Peringati Hari Perempuan Internasional
Kabar Golkar 08 Maret 2019
bukan untuk menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan lingkungan masyarakat,” jelas Alisya.
Pembagian ”seribu” bunga, jelas Alisya, juga salah satu bentuk keprihatian terhadap Erni Susanti (30) yang diduga dibunuh secara sadis oleh suaminya sendiri, berinisial RS. Kesadisan terduga tersangka lakukan kepada istrinya dengan membelah perut istrinya yang sedang hamil tua.
”Ini salah satu bentuk kepedulian kita apa yang telah menimpa Erni, korban dugaan kekerasan yang berujung meninggal dunia. Di momen International Women’s Day 2019 ini kami berharap, tersangka dugaan pembunuhan terhadap Erni dapat di hukum mati,” ungkap Alisya.
Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Sekarang!
Dilanjutkan Alisya, dari data Yayasan PUPA Bengkulu sejak Januari 2018 hingga Oktober 2018 tercatat 113 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu. Angka kekerasan tertinggi terjadi pada Januari 2018, sebanyak 26 kasus.
Kasus tertinggi, kata Alisya, perkosaan dengan persentase 25,66 persen, lalu pencabulan 22 persen, penganiayaan 22 persen, disusul KDRT 18,6 persen dan pelecehan seksual, kekerasan dalam Pacaran, bully, penelantaran, percobaan pemerkosaan, cyber harassment, hingga femicide (kekerasan pada perempuan yang berakhir pada kematian).
Kekerasan tersebut merupakan kasus yang dapat di lihat secara langsung. Sementara kekerasan psikis tidak terdata secara spesifik serta tidak bisa menjadi kasus tunggal, melainkan melapisi kekerasan lain.
Pada tahun 2018, terduga pelaku dalam kasus kekerasan paling banyak terjadi pada relasi yang tidak dikenal atau diketahui. Yakni, sebanyak 24 persen. Kemudian, pelaku teman 21,52 persen, suami 15,97 persen, tetangga 14,58 persen, ayah kandung 4,166 persen.
Selanjutnya, pacar 3,44 persen, ayah tiri 2,77 persen, ibu kandung 2,77persen, wali/ guru/ kepala sekolah 2,08 persen, dan anak kandung/tiri, kakek, mantan pacar, mantan suami dengan masing-masing jumlah pelaku 1,38 persen, serta saudara kandung/tiri, paman, mantan calon mertua, saudara ipar dengan jumlah pelaku masing-masing 0,69 persen.
”Kekerasan terhadap perempuan harus menjadi perhatian banyak pihak. Hentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekarang!,” tegas Alisya.
Kekerasan yang menimpa perempuan dan anak di Bengkulu, cukup memprihatinkan. Sehingga menjadi sorotan pemerintah pusat. Alisya mencontohkan, kejadian yang menimpa salah satu siswi SMP di Kabupaten Rejang Lebong, Yuyun. Kejadian, yang terjadi pada Sabtu 2 April 2016, membuat heboh jagat raya. Di mana, Yuyun di perkosa 14 orang secara bergilir hingga meregang nyawa.
Lalu, dugaan pembunuhan satu keluarga di Kabupaten Rejang Lebong, pada Sabtu 12 Januari 2019. Hasnatul Laili (35), bersama dua orang anaknya, Melan Miranda (16) dan Cika Ramadani (10), ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya. Terduga tersangkanya tidak lain adalah mantan suaminya sendiri, berinisial JM (33).
Kejadian sadis lainnya, sambung Alisya, terjadi pada Kamis 21 Februari 2019. Korban atas nama Erni Susanti (30), diduga dibunuh secara sadis oleh suaminya sendiri, berinisial RS. Kesadisan terduga tersangka lakukan kepada istrinya dengan membelah perut istrinya yang sedang hamil tua.
Kejadian kekerasan yang terjadi di Bengkulu, jelas Alisya, harus dihentikan sejak dini. Sebab, kata Alisya, jika kekerasan itu berasal dari lingkungan keluarga secara otomatis tidak ada tempat aman lagi bagi perempuan dan anak.
”Kejadian-kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dihentikan. Kami minta ada keseriusan dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan instansi lainnya agar kejadian serupa tidak terjadi di lingkungan masyarakat Bengkulu,” tegas Alisya.
Stop Hoaks dan Kekerasan Terhadap Perempuan
Menjelang pesta demokrasi pada Rabu 17 April 2019 atau tidak
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.