dan milenial Partai Golkar untuk lebih terlibat dan diberikan kesempatan mengurus partai.
Erwin Aksa
[caption id="attachment_27662" align="aligncenter" width="700"]
Erwin Aksa. (ANTARA FOTO/Widodo S.)[/caption]
Termasuk politisi muda yang namanya sering dihembuskan untuk meramaikan bursa Caketum Golkar periode 2019-2024. Politisi yang juga pengusaha muda ini boleh dikatakan sosok setia kawan. Hal tersebut ditunjukkannya ketika memutuskan mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu. Keputusan pribadi itu bertentangan dengan arah kebijakan partai yang mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin, serta kontan memancing komentar dari berbagai pihak. Namun, dirinya menjunjung sejarah persahabatan erat dengan Sandiaga yang membuat Erwin memilih berhaluan jalan dengan partainya. “Bagi saya, persahabatan lebih penting dari segalanya. Jangan sampai persahabatan terputus karena pilihan politik yang berbeda,” ujarnya kala itu.
Sosok Erwin Aksa dapat dilihat sebagai perwakilan suara kader partai yang menginginkan generasi muda dan milenial sebagai pemegang tampuk pimpinan di partai ini. Terlebih dengan semakin dominannya suara generasi muda dan milenial di ajang pemilihan berikutnya, baik pilkada, pileg, maupun pilpres, kehadiran sosok generasi muda maju menjadi pemimpin partai ini menjadi salah satu pertimbangan guna menarik suara pemilih.
Indra Bambang Utoyo
[caption id="attachment_24827" align="aligncenter" width="700"]
Indra Bambang Utoyo (Foto: Facebook /@Indra Bambang Utoyo) [/caption]
Sosok ini secara terbuka memang telah mempertimbangkan untuk ikut maju meramaikan bursa Caketum Golkar. Namanya, bersama Ridwan Hisjam, juga turut disebut ketika Bambang Soesatyo mendeklarasikan dirinya sebagai Calon Ketua Umum Partai Golkar pada 18 Juli 2019 lalu.
Indra Bambang Utoyo adalah tokoh Partai Golkar yang saat ini menjabat sebagai salah satu ketua DPP Golkar. Dia pernah menjabat Ketua Umum AMPI dan Ketua FKPPI.
Salah satu pertimbangannya maju sebagai Caketum Golkar karena dilandasi kecintaannya terhadap partai, serta kekhawatirannya terhadap arah dan perkembangan partai yang dicintainya ini. Diantaranya karena melihat hilangnya peran Golkar dalam politik kebangsaan belakangan ini hingga banyak kader yang terjerat kasus korupsi.
Agus Gumiwang Kartasasmita
[caption id="attachment_27663" align="aligncenter" width="700"]
Agus Gumiwang Kartasasmita (MI/Susanto)[/caption]
Namanya mulai ramai diperbincangkan ketika menggantikan posisi Idrus Marham sebagai Menteri Sosial RI di Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla. Setelah resmi dilantik pada 24 Agustus 2018, dirinya pun langsung turun menangani masalah gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain itu, Jokowi juga mengingatkan soal penyaluran bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai tugas yang harus diprioritaskan sebagai Menteri Sosial.
Sosok ini tidak diragukan kegolkarannya yang turun dari sang ayah, Ginandjar Kartasasmita, seorang politisi dan tokoh Golkar. Agus Gumiwang memiliki pengalaman sebagai pengurus DPP dan juga pernah duduk di kursi DPR. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadikannya sebagai kandidat Caketum Golkar yang layak dipertimbangkan.
Golkar Tak Kekurangan Stok Pemimpin
Tampilnya beberapa nama tersebut menunjukkan bahwa Partai Golkar sarat dengan kader-kader berkualitas yang dianggap memiliki kapasitas serta kapabilitas merebut tampuk pimpinan partai. Demikian sekilas mengenai lima tokoh yang masuk dalam perbincangan para kader sebagai calon-calon alternatif yang dianggap mumpuni untuk maju menjadi Ketua Umum Partai Golkar 2019-2024 nanti. Tentu saja perkembangannya sangat dinamis, bisa bertambah maupun berkurang. Siapa nantinya yang akan berhasil mengemban amanah menjadi Ketum, masih menunggu pergelaran Munas Partai Golkar. (kabargolkar)
Â