Kabar Golkar

Dinamika Perbedaan Adalah Kekuatan Partai Golkar

Oleh Kabar Golkar · · Kabar Nasional

Dinamika Perbedaan Adalah Kekuatan Partai Golkar
Dinamika Perbedaan Adalah Kekuatan Partai Golkar
Konflik Tak Bisa Kerdilkan Golkar Meski dilanda konflik berkali-kali, Partai Golkar selalu bertahan di kancah politik Indonesia. Bukan sebagai partai kelas dua, melainkan bercokol di tiga besar perolehan suara nasional. Di luar masalah konflik, ada pula problem korupsi. Pada periode 2014-2019, setidaknya ada 20 nama kader Partai Golkar mulai dari kepala daerah hingga anggota DPR yang ditangkap oleh KPK. Di antara 20 orang itu, Ketua Umum Setya Novanto dan Sekretaris Jenderal Idrus Marham juga diciduk. Tapi Partai Golkar masih mempertahankan posisinya. Ia memperoleh 12,31 persen suara nasional dan menjadi partai dengan perolehan suara terbanyak kedua. Lagi-lagi, setelah PDI-P. Kendati hasil ini turun dari perolehan lima tahun lalu, stabilitas posisi Partai Golkar tetap terjaga. Jangankan mempertahankan suara, Golkar juga berhasil membina kadernya mendirikan partai sendiri dan meraih suara signifikan di Pileg 2019, misalnya Gerindra dan Nasdem. Pasca-konvensi calon presiden Golkar pada 2004, Prabowo, Wiranto, dan Surya Paloh keluar dari Partai Golkar. Wiranto mendirikan Hanura pada 2006, Prabowo membentuk Gerindra tahun 2008, dan Surya Paloh melahirkan NasDem pada 2011. Pada 2014, ketiga partai itu sukses melenggang ke parlemen. Kali ini, hanya Gerindra dan Nasdem yang bertahan. “Partai Golkar terbiasa dengan konflik. Oleh sebab itu kalau konflik kali ini nantinya melahirkan partai baru, ya wajar saja,” kata peneliti politik Populi Center Nico Harjanto, Sabtu (21/3/2015) seperti dilansir CNN. Saat itu Nico tengah menyinggung konflik Ical-Agung. Masih dalam buku Faksi dan Konflik Internal Partai Politik di Indonesia Era Reformasi (2018), peneliti politik Aisah Putri Budiarti menilai Golkar bisa bertahan karena pengalamannya sebagai partai yang tak bergantung pada figur tertentu. Pada akhirnya, itulah yang menyelamatkan Golkar. “Usia organisasi yang sudah lama dan sumber generasi di Golkar yang tidak pernah surut menjadi kekuatan partai,” tegasnya. [tirto]