Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Dinamika Perbedaan Adalah Kekuatan Partai Golkar
  Kabar Golkar   04 November 2019
2019 karena telah ada perjanjian antar keduanya. "Untuk sementara ini, saya coolling down dulu. Memutuskan untuk mendukung pencalonan beliau (Airlangga)," jelas Bamsoet seperti dikutip Merdeka, Sabtu (28/9/2019). "Lain-lain biarlah saya, ketua umum (Airlangga), dan Tuhan yang tahu apa yang sudah kami membuat komitmen.” Ditempa Konflik Baik Bamsoet maupun Airlangga sudah bertemu Presiden Joko Widodo. Pendukung kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa calon yang diusungnya mendapat restu Jokowi. Bukan kali ini saja Golkar terlibat konflik dan melibatkan presiden dalam pusaran masalah. Sejak masih embrio, sebelum menjadi partai, Golkar sudah akrab dengan konflik. “Golkar adalah gagasan Sukarno,” catat dosen di Universitas New South Wales Australia, David Reeve dalam buku Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran dan Dinamika (2013) “Ia [Sukarno] merupakan orang yang meluncurkan gagasan Golkar ke dalam perpolitikan Indonesia.” Secara konseptual, Golkar terdiri dari para golongan fungsional alias kelompok kerja/profesi. Saat itu dua kelompok profesi terbesar di masyakarat adalah petani dan buruh. Namun, gagasan Sukarno ini kemudian dibajak oleh Angkatan Darat. Ketika Sukarno ingin membubarkan partai politik, golongan fungsional militer sudah menjamur. Sedangkan Sukarno, seperti yang ditulis Reeve, “belum membentuk [golongan] satu pun.” Golongan fungsional berganti istilah menjadi Golongan Karya pada 1958. Menurut Suhardiman dan Ade Komaruddin Mochamad dalam Kupersembahkan Kepada Pengadilan Sejarah: Otobiografi Soehardiman (1993), Angkatan Darat saat itu membentuk beberapa organ seperti Koperasi Usaha Gotong Royong (KOSGORO) yang merupakan wadah perjuangan bagi sejumlah anggota Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP) yang dipimpin oleh Kolonel Mas Isman pada 1957. Ada juga Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) yang didirikan pada 3 Januari 1960 oleh Kolonel Sugandhi. Terakhir, sebelum Golkar benar-benar lahir, ada Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) yang dipimpin dan didirikan Letnan Kolonel Suhardiman pada 1962. Kelahiran Golkar 20 Oktober 1964 ditandai dengan bentukan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar. Ketua umum pertamanya adalah Djuhartono yang pernah aktif di militer dengan pangkat brigadir jenderal. “Proses utama yang terlihat sejak 1957 hingga 1965 adalah perubahan dalam gagasan Golkar sebagai bentuk baru perwakilan yang diluncurkan oleh Sukarno menjadi sebuah senjata anti-PKI yang digunakan oleh Angkatan Darat dan sekutunya,” tulis Reeve. Setelah Sukarno lengser akibat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto memanfaatkan Golkar menjadi kendaraan politiknya. Ia segera melakukan restrukturisasi Golkar pada 1969. Selama Orde Baru, Golkar adalah partai yang paling berkuasa. Ia terus memenangkan pemilu sejak 1971 hingga 1997. Akbar Tandjung dalam The Golkar Way (2008) menulis: “Golkar menjadi mesin politik untuk mengamankan dan memperlancar agenda politik dan program pembangunan Orde Baru.” Pada Mei 1998, Ketua DPR sekaligus Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko, meminta Soeharto untuk mundur dari jabatannya. Pada masa inilah konflik kembali meledak di Golkar. Harmoko, seperti yang dicatat Akbar, dipandang sebagai pengkhianat oleh kader Golkar pro-Soeharto. Desakan Munaslub pun muncul dari ormas-ormas yang bergabung dengan Golkar. “Konflik politik di tubuh Golkar yang selama Soeharto berkuasa tidak pernah kelihatan tiba-tiba muncul ke permukaan,” tulis Akbar. Setelah keruntuhan Orde Baru, banyak pihak memprediksi Golkar akan ikut tenggelam. Nyatanya, ia mampu bertahan. Namun konflik kembali mewarnai internal Golkar yang kali ini sudah mengusung sistem kepartaian. Munaslub Golkar akhirnya digelar pada 11 Juli 1998. Persaingan ketat saat itu terjadi antara kubu perwakilan sipil Akbar Tandjung dengan perwakilan militer Jenderal Edi Sudradjat. Panglima ABRI yang hanya
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.