11 Juli 2020
Bamsoet: Kepemimpinan Intimidatif di Tubuh Golkar Harus Segera Dieliminasi
  Administrator
  02 Desember 2019
  • Share :
[caption id="attachment_32263" align="aligncenter" width="670"] Wakorbid Pratama DPP Golkar Bambang Soesatyo[/caption] kabargolkar.com, JAKARTA - Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menyuarakan sejumlah hal. Politikus yang juga akan maju di bursa pemilihan Ketum Golkar ini menyinggung soal kepemimpinan intimidatif di partainya. "Menuju Munas Partai Golkar pada 3-6 Desember 2019 di Jakarta, ada beberapa catatan penting yang patut digarisbawahi para kader. Pertama, baik sekarang maupun nantinya, Golkar tidak boleh menjadi faktor penghambat konsolidasi demokrasi Indonesia," ujar Bamsoet kepada wartawan, Senin (2/2/2019). Agar mampu menjadi penggerak demokrasi, kata Bamsoet, Golkar harus menuntaskan demokratisasi tata kelola partai. Dengan begitu, demokratisasi tata kelola itu menurutnya bisa berjalan. "Kepemimpinan intimidatif di tubuh partai harus segera dieliminasi. Golkar tidak boleh memberi beban atau masalah kepada pemerintah. Jika pasca-Munas Partai Golkar masih pecah lagi, sama artinya itu memberi masalah kepada pemerintah. Sebab, pemerintah pada akhirnya hanya bisa mengakui satu DPP Partai Golkar. Tidak mungkin pemerintah atau Presiden dipaksa harus mendengarkan dua DPP Partai Golkar," tutur Bamsoet. Ketua MPR ini juga memiliki pesan lain terkait dengan internal Golkar. Menurut Bamsoet. Golkar harus segera beradaptasi dengan perubahan zaman. "Golkar harus 'berdandan' sedemikian rupa agar tampak menarik dalam pandangan generasi milenial. Dan, pada waktunya nanti, Golkar pun harus memperkenalkan profilnya kepada generasi Z yang dalam beberapa tahun ke depan akan memperoleh hak memilih dan dipilih," sebutnya. Bamsoet menilai Golkar harus mencari rumusan atau strategi baru agar bisa merekrut kaum milenial dan generasi Z sebagai kader maupun sekadar sebagai simpatisan. Pendekatan kepada kedua kelompok generasi tersebut dianggap tak cukup jika hanya dengan mengandalkan propaganda atau komunikasi satu-dua arah. "Gambaran tentang bagaimana tata kelola Parpol pun pasti menjadi perhatian utama kedua kelompok generasi itu. Kepada kedua kelompok generasi ini, Golkar harus mengawali pendekatannya dengan perbaikan citra," kata Bamsoet. "Bagaimanapun, rangkaian pemberitaan seputar konflik internal selama periode persiapan menuju Munas 2019 menjadi promosi yang tidak menguntungkan Golkar. Gambaran dan kesan tentang kepemimpinan intimidatif itu begitu kuat," sambungnya. (detik)
Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.