-000-
Ketika kami berjumpa, Burhan mengeluh. Ia tak lagi seproduktif dulu. Usia menua. Semakin tak ada peluang riset yang serius, dengan dana yang cukup.
Dalam dunia akademik, Burhan Magenda dikenal ahli soal politik lokal. Ia membuat riset soal Ethnic and Social Class in Indonesian Local Politics. Ini studi kasus Kalimantan Timur.
Disertasinya di Cornell University juga soal politik lokal: The Aristrocacy in Provincial Politics in Indonesia: A Study of Three Outer Islands.
“Mas Denny pernah juga riset soal konflik etnis ya?,”
“Ya, pak.” Saya pun bercerita riset di tahun 2012. Yayasan Denny JA melakukan riset kekerasan akibat diskriminasi, di Indonesia pasca reformasi, tahun 1998.
“Agar terukur dan dapat dibandingkan satu kasus dengan kasus lain, saya membuatkan indeks kuantitatifnya.”
Saya bercerita panjang lebar. Indeks kekerasan disusun berdasarkan 5 variabel: jumlah korban yang mati, lamanya konflik, luasnya konflik, kerugian materi, dan luasnya pemberitaan media
Lima kasus kekerasan politik identitas terburuk di Indonesia saya data, pasca reformasi 1998. Yang paling keras adalah konflik agama Islam dan kristen di Maluku tahun 1999
Juga konflik etnis di Sampit, kalimantan, tahun 2001, antara suku pendatang Madura dan penduduk asli suku dayak
Kekerasan rasial di Jakarta tahun 1998, yang menimpa etnis Tionghoa ikut dimasukkan ke dalam list. Juga kekerasan atas paham agama: Ahmadiyah di Mataram, tahun 2006.
Konflik etnis di Lampung Selatan tahun 2012, antara suku pendatang: Bali dan penduduk asli Lampung juga dijadikan kajian.
“Saya setuju,” ujar pak Burhan. “Maluku memang paling parah.
“Isu kesetaraan warga negara di banyak daerah belum selesai,” sambung Burhan.
“Saya juga pernah riset mengenai Syndrom Putra Daerah.” Ujar Burhan: “Sejak era otonomi daerah, putra daerah terlalu dipentingkan. Tak jarang jenjang meritokrasi dan profesionalisme dikurbankan demi keutamaan putra daerah.”
Kami berencana berjumpa lagi. Percakapan kami sangat hangat. Di samping kami sangat nyambung ngobrol soal politik, juga kami terkoneksi bercakap soal sastra.
Namun Burhan Magenda kini sudah tiada. Tak saya tahu jika ia mengidap penyakit kronis jantung dan ginjal. Ia juga tak cerita apa- apa soal penyakitnya.
Selamat jalan profesor. Selamat jalan kawan diskusi yang mengasyikan.*
4 April 2022.
*Penulis adalah
Denny JA