
Kesibukan bulan Desember yang biasanya ditandai dengan kompetisi catur, kini sudah tidak ada lagi. Kemeriahan dan keseriusan para kader dalam berlomba memperebutkan Suhardiman Cup memang telah berhenti setelah Suhardiman meninggal pada 13 Desember 2015 yang lalu. Tak kurang dari Utut Adiyanto, maestro catur Indonesia yang kini menjabat Wakil Ketua DPR-RI, beberapa kali turut serta hadir dan memeriahkan turnamen tersebut dengan bermain simultan dengan peserta atau bahkan bermain dengan almarhum Suhardiman.
Catur memang merupakan hobi yang tak pernah lepas dari keseharian Suhardiman semasa hidupnya. Sambil mengasah otak lewat permainan catur, Suhardiman berdiskusi dengan para kadernya tentang berbagai masalah masyarakat, bangsa dan negara. Tak henti-hentinya, “tokoh lima zaman” tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Din Syamsuddin, senantiasa melibatkan dirinya secara langsung dalam lima periode kepemimpinan kebangsaan.
Meski senantiasa memperlihatkan optimisme bahwa kemerdekaan dan pembangunan bangsanya akan berbuah ‘manis’, dia meyakini bahwa hal itu tidak akan datang begitu saja. Perlu kerja keras, kepemimpinan dan ketokohan yang tangguh mumpuni, serta kesiapan menghadapi berbagai gelombang dan badai yang setiap saat datang. Sumber daya alam dan budaya hanya akan menjadi santapan dan keuntungan bagi pihak asing apabila kita tidak mampu mengelola sumber daya manusia yang besar ini, katanya suatu saat.
Sebagai orang yang senantiasa dekat mendampingi, terutama sejak almarhum menyuruh kami pindah ke Jakarta, kami dapat menyaksikan betapa “tokoh lima jaman” ini konsisten bekerja dan memikirkan bangsanya, meski kerap merasa kurang mendapat penghargaan sepatutnya.
Komitmen dan keyakinannya pada Pancasila sebagai satu-satunya dasar dan pegangan yang paling tepat bagi NKRI tertoreh kuat dalam jejak perjalanan hidupnya. Sikapnya jelas dan tegas dalam menghadapi kelompok separatisme dan juga kelompok ekstrim kiri maupun kanan yang hendak mengganti Pancasila. Sebagai seorang kadet muda militer, almarhum terlibat langsung dalam menumpas PRRI/Permesta. Demikian pula dalam menghadapi PKI yang membentuk SOBSI menjadi alasan kuat Suhardiman untuk memdirikan organisasi tandingan bernama SOKSI yang kemudian bersama MKGR dan Kosgoro membentuk Sekber Golkar yang kemudian. menjadi Partai Golkar. Melalui wadah ini pula Suhardiman melindungi mahasiswa yang berhimpun dalam HMI dari ancaman PKI, sehingga di pertengahan tahun 60’an, sebagaimana dikatakan oleh Akbar Tanjung dan juga Yahya Muhaimin, aktifis HMI juga bergabung dalam Pelmasi-SOKSI, Persatuan Mahasiswa Swadiri bentukan SOKSI.