Totalitas Pada Bangsa, In Memoriam Prof. Suhardiman, SE
Oleh Kabar Golkar · · Kabar Nasional
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swandiri Indonesia (Soksi) Ade Komarudin (kanan) bersama Ketua Soksi Jawa Barat Ali Hasan (tengah) menyambut Ketua Dewan Pembina Soksi Soehardiman (kiri) pada Munas Soksi di Cilegon, Banten, 19 Mei 2015. ( Foto: Antara/Asep Fatulrahman )[/caption]
Oleh: Valentino Barus
Kesibukan bulan Desember yang biasanya ditandai dengan kompetisi catur, kini sudah tidak ada lagi. Kemeriahan dan keseriusan para kader dalam berlomba memperebutkan Suhardiman Cup memang telah berhenti setelah Suhardiman meninggal pada 13 Desember 2015 yang lalu. Tak kurang dari Utut Adiyanto, maestro catur Indonesia yang kini menjabat Wakil Ketua DPR-RI, beberapa kali turut serta hadir dan memeriahkan turnamen tersebut dengan bermain simultan dengan peserta atau bahkan bermain dengan almarhum Suhardiman.
Catur memang merupakan hobi yang tak pernah lepas dari keseharian Suhardiman semasa hidupnya. Sambil mengasah otak lewat permainan catur, Suhardiman berdiskusi dengan para kadernya tentang berbagai masalah masyarakat, bangsa dan negara. Tak henti-hentinya, “tokoh lima zaman” tersebut, sebagaimana dikatakan oleh Din Syamsuddin, senantiasa melibatkan dirinya secara langsung dalam lima periode kepemimpinan kebangsaan.
Meski senantiasa memperlihatkan optimisme bahwa kemerdekaan dan pembangunan bangsanya akan berbuah ‘manis’, dia meyakini bahwa hal itu tidak akan datang begitu saja. Perlu kerja keras, kepemimpinan dan ketokohan yang tangguh mumpuni, serta kesiapan menghadapi berbagai gelombang dan badai yang setiap saat datang. Sumber daya alam dan budaya hanya akan menjadi santapan dan keuntungan bagi pihak asing apabila kita tidak mampu mengelola sumber daya manusia yang besar ini, katanya suatu saat.
Sebagai orang yang senantiasa dekat mendampingi, terutama sejak almarhum menyuruh kami pindah ke Jakarta, kami dapat menyaksikan betapa “tokoh lima jaman” ini konsisten bekerja dan memikirkan bangsanya, meski kerap merasa kurang mendapat penghargaan sepatutnya.