Kabar Golkar

Pidato Bahlil di Munas Golkar: Bukan Sekadar Raja Jawa

Oleh · · Opini

M. Fajar Rillah Vesky,  Anggota DPRD dari Golkar
M. Fajar Rillah Vesky, Anggota DPRD dari Golkar

"Nah mungkin, kita bikin, pokja-pokjanya banyak. Saya juga izin dalam forum ini,  mau menyampaikan, pengurusnya tidak usah banyak. Di bawah 100. Karena semakin banyak pengurus, bukan kita pikirkan program, kita malah pikirkan pengurus," tukas Bahlil.

Bahlil ingin membuat struktur pemenangan pemilu yang terukur. Ada  bidang millenial. Ada bidang pertanian. Ada bidang enterpreneur. Dan macam-macam. Ini yang akan didetailkan Kemudian, Bahlil ingin Fraksi Golkar di DPR betul-betul menjadi perpanjangan partai.

"Bila perlu, satu hari, tiga tema, empat tema. Main barang ini. Kalau tak main, bargaining possition kita gak jalan. Jadi kalau tak ada masalah, ya buat dikit-dikit lah. Jangan terlalu banyak, nanti pengendalinanya susah," pungkas Bahlil.

 

Akhiri Faksi-Faksi di Golkar

Sebelum menutup pidato pertamanya, Bahlil menegaskan, misinya ke depan, tidak ingin,

Golkar berfaksi-faksi. Jangan ada lagi faksi a, faksi b, faksi c. "Faksi kita, cuma satu. Partai Golkar. Udahlah, gaya lama ini sudahlah Abang semua. Mohon maaf. Udah. Saya minta tolong. Udah. Udah," pinta Bahlil.

Dia juga tak ingin lagi, ada ilmu "olah-mengolah" di Partai Golkar. Partai ini harus  dilakukan sebagai organisasi modern. Tidak bisa lagi omon-omon . "Kita kalau boleh yang lurus-lurus ajalah," ujar Bahlil.

Dia menegaskan, pentingnya memperkuat posisi Partai Golkar sebagai organisasi yang mengandalkan sistem kaderisasi. Ada hasta karya. Ada organisasi sayap. Organisasi lain di luar dari kepengurusan. Ini harus diisi kader Golkar. 

Terakhir, Bahlil menegaskan,   program paling pertama kepengurusan Partai Golkar ke depan adalah menyukseskan pemerintahan Prabowo-Gibran. Berada pada garda terdepan untuk mengeksekusi seluruh program. Dan juga berada pada garda terdepan dengan parpol koalisi lain untuk menjadi benteng pertahanan. Ketika ada yang main-main.

"Ini adalah bagian dari implementasi doktrin karya-kekaryaan. Dan kita tak boleh main-main. Kita sepakat, mendukung pemerintah. Jangan pagi mendukung, sore mendukung, siang mendukung, malam main-main. Saya tak punya kepentingan pribadi.  Kepentingan saya, Golkar  lebih baik dari sekarang," kata Bahlil.

Akankah, Bahlil Lahadalia, mampu mewujudkan mimpi besarnya? Ataukah Bahlil justru akan tenggelam dengan candaan politiknya soal Raja Jawa?  Kita lihat saja. Yang jelas, Bahlil yang tak suka diumbar dan disanjung itu, mengakui apa adanya, jika kadang tata kramanya, agak berkurang dari orang kota. Namun tak perlu meragukan komitmen dan kesetiaannya. Semoga begitu adanya. Biar masuk tuh barang!.

Tag: Bahlil,, MunasGolkar,, RajaJawa,, FajarRillah