KabarGolkar - Pada satu jeda di tengah RAPIMNAS DPP Partai
GOLKAR, ketika forum rehat sejenak dari pidato dan agenda resmi, saya membayangkan sebuah percakapan imajiner. Bukan percakapan politik biasa, melainkan dialog tentang cara melihat realitas.
“Masalah kita bukan pada struktur,” kata sebuah suara dalam imajinasi itu, tenang namun tegas.
“Masalah kita adalah paradigma, cara kita memaknai perubahan.”
Dalam antropologi, Ahmad Fedyani Saifuddin kerap mengingatkan bahwa konflik sosial jarang lahir dari niat buruk, melainkan dari perbedaan kerangka berpikir. Orang bertindak bukan semata karena kepentingan, tetapi karena cara ia memahami dunia di sekitarnya. Realitas sosial, bagi antropologi, bukan benda mati, ia adalah hasil tafsir kolektif.
RAPIMNAS GOLKAR kali ini, jika dibaca dengan kacamata itu, bukan sekadar forum organisasi. Ia adalah arena pertemuan paradigma. Antara yang memandang partai sebagai bangunan hierarkis yang harus dijaga ketat, dan yang melihat partai sebagai organisme hidup yang harus terus beradaptasi.
“Kalau struktur dipaksakan tanpa membaca konteks,” lanjut suara itu,
“maka yang terjadi bukan keteraturan, tetapi keterasingan.”
Kepemimpinan Ketua Umum DPP Partai GOLKAR, Bahlil Lahadalia, tampak berada pada sisi paradigma kedua. Ia tidak sedang meruntuhkan struktur, tetapi menggeser cara kerja makna di dalam struktur itu sendiri. Forum dibuat lebih cair, suara daerah dibuka, badan dan ormas diperlakukan sebagai subjek. Dalam bahasa antropologi, aktor-aktor diberi kembali agensinya.
Ahmad Fedyani Saifuddin menyebut kebudayaan bukan sebagai warisan beku, melainkan proses yang terus dinegosiasikan. GOLKAR, sebagai partai dengan sejarah panjang, sedang berada dalam proses negosiasi itu. Tradisi tidak ditolak, tetapi ditafsir ulang agar tetap relevan dengan konteks zaman.
“Senior dan junior itu bukan soal usia,” suara imajiner itu kembali berujar.
“Itu soal posisi makna dalam sistem sosial.”
Di sinilah pesan penting RAPIMNAS ini. Para senior tidak sedang disingkirkan. Yang diminta adalah reposisi kultural, dari pusat kendali menuju pusat kebijaksanaan. Dari aktor dominan menjadi penjaga nilai. Ini bukan degradasi peran, melainkan pendewasaan fungsi, sebuah konsep yang sangat antropologis.
Sebaliknya, generasi yang lebih muda tidak diminta untuk memberontak, tetapi untuk memikul warisan. Dalam paradigma antropologi, regenerasi bukan penghapusan masa lalu, melainkan transmisi makna. Tanpa itu, organisasi akan terputus dari akarnya. Percakapan imajiner itu seolah menemukan momentumnya ketika forum kembali dibuka. Satu demi satu pandangan disampaikan.
Tidak semuanya sepakat. Namun justru di situlah tanda organisasi yang hidup. Seperti kata Ahmad Fedyani Saifuddin, keteraturan sosial bukan hasil keseragaman, melainkan kesepakatan yang terus diperbarui. GOLKAR sedang mencoba memperbarui kesepakatannya dengan zaman. Kepemimpinan Bahlil Lahadalia, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, menawarkan satu pendekatan penting dalam politik modern, mendengar sebagai strategi kekuasaan.
Bukan mendengar untuk mengalah, tetapi mendengar untuk memahami medan sosial yang berubah cepat.
Jika paradigma lama bertumpu pada kontrol, paradigma baru bertumpu pada pemaknaan bersama