Listrik mengubah produktivitas masyarakat.
Karena itulah saya memandang program elektrifikasi desa bukan sekadar program Kementerian ESDM. Ini adalah program pembangunan manusia Indonesia.
Pemerintah sendiri menargetkan seluruh desa dan dusun di Indonesia telah berlistrik pada 2029. Maka pekerjaan menuju ke sana memang harus dilakukan dengan kecepatan yang tidak biasa.
Matahari kita, adalah Energi kita
Ada pertanyaan sederhana.
Indonesia memperoleh sinar matahari hampir sepanjang tahun. Mengapa anugerah sebesar itu tidak kita ubah menjadi kekuatan ekonomi dan energi nasional?
Selama bertahun-tahun, sejumlah wilayah terpencil masih bergantung pada pembangkit berbahan bakar diesel. Persoalannya bukan hanya harga BBM, tetapi juga biaya distribusi dan logistik untuk membawa solar ke pulau-pulau dan kawasan terpencil.
Karena itu, konversi secara bertahap dari pembangkit berbasis diesel menuju energi terbarukan memiliki arti strategis.
Semakin banyak energi surya yang dapat kita produksi, semakin besar peluang mengurangi konsumsi solar untuk pembangkitan. Semakin kecil ketergantungan terhadap solar, semakin besar pula kesempatan mengurangi kebutuhan impor BBM.
Inilah mengapa transisi energi jangan hanya dibaca sebagai agenda lingkungan.
Transisi energi adalah agenda ekonomi. Transisi energi adalah agenda geopolitik. Dan pada akhirnya, transisi energi adalah agenda kedaulatan nasional.
Bukan hanya Membangun PLTS
Yang menarik, pembangunan PLTS 100 GWp juga dapat menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih luas.
Indonesia telah mulai memiliki industri panel surya serta industri baterai penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) di dalam negeri.
Artinya, apabila dikelola secara konsisten, program PLTS bukan hanya menghasilkan listrik.
Kita dapat membangun rantai industri.
Panel surya diproduksi di Indonesia. Baterai dikembangkan di Indonesia. Tenaga kerja Indonesia memperoleh kesempatan kerja. Industri pendukung tumbuh. Teknologi berkembang dan investasi masuk.
Bahlil menyebut potensi investasi untuk keseluruhan Program PLTS 100 GWp dapat mencapai sekitar Rp1.140 triliun.
Bayangkan multiplier effect apabila investasi sebesar itu benar-benar terealisasi dan sebagian besar rantai nilainya berada di dalam negeri.
Karena itu, saya melihat pekerjaan ini bukan semata-mata urusan memasang panel surya.
Ini adalah kesempatan membangun ekosistem industri energi baru Indonesia.
Dari Ketahanan menuju Kedaulatan
Dunia sedang berubah.
Konflik geopolitik, perang, gangguan rantai pasok dan ketidakpastian perdagangan internasional telah memberikan pelajaran kepada hampir semua negara bahwa ketergantungan berlebihan terhadap pasokan strategis dari luar negeri adalah sebuah kerentanan.
Energi berada di jantung persoalan itu.
Tanpa energi, industri berhenti. Transportasi terganggu. Produksi pangan terdampak. Pertahanan melemah dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut terguncang.
Itulah sebabnya gagasan Presiden Prabowo mengenai swasembada energi harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional yang lebih besar.
Indonesia dianugerahi sumber daya yang luar biasa.
Kita mempunyai gas bumi, batu bara, panas bumi, tenaga air, bioenergi dan energi matahari dalam jumlah sangat besar.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mempunyai sumber energi.
Pertanyaannya adalah: mampukah kita mengelolanya untuk membuat bangsa ini berdiri di atas kaki sendiri?
Itulah tantangan sesungguhnya.
Kita harus bergerak dari ketahanan energi menuju kemandirian energi, kemudian mencapai kedaulatan energi Indonesia.
Pejabat Publik boleh dikritik, tapi Kerja baik juga harus mendapat pengakuan dari Publik.
Demokrasi membutuhkan kritik.
Tidak ada pejabat pemerintah yang boleh merasa dirinya berada di luar jangkauan kritik publik.