kabargolkar.com, JAKARTA - Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) menggelar
Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN, Kepala BPPT, Kepala LAPAN, dan Direktur LBM Eijkman, Selasa (14/4).
Agenda yang dibahas dalam rapat tersebut terkait kesiapsiagaan dan langkah strategis dukungan riset dan inovasi dalam menghadapi Covid-19.
Dyah Roro Esti Widya Putri, Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Golkar ikut dalam rapat yang digelar secara virtual itu. Politisi milenial Golkar ini memberikan apresiasinya terkait penunjukan BPPT sebagai koordinator percepatan produk dalam negeri (DN) untuk produk-produk terkait penanganan covid-19.
"Dalam kesempatan ini saya mengapresiasi langkah pemerintah, khususnya Kemenristek/BRIN yang memberikan mandat Kepada BPPT untuk menjadi koordinator percepatan produk dalam negeri, melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk penanganan Covid-19. Dimana dapat dikembangkan face shield, portable ventilator, dan AI," ujarnya.
Politisi perempuan Golkar ini berharap agar penunjukan BPPT sebagai koordinator produksi produk-produk untuk menangani virus mematikan itu, seperti alat rapid test covid-19, akan sangat membantu mempercepat penanganan pandemi melalui tes massal.
"Konkritnya, sangat berharap agar jumlah test kit dalam negeri ini dapat diperbanyak lagi dan bisa disebar khususnya di daerah-daerah yang tergolong “red-zone”. Tentunya dibantu dengan pemerintah daerah, agar penyebaran covid-19 tidak semakin parah dan penanganannya bisa tepat sasaran," ujar Dyah.
Roro Esti pun menyebut Korea Selatan sebagai contoh negara yang berhasil menekan penyebaran virus covid-19 karena sukses menerapkan tes massal. "Menurut saya kita perlu belajar dari Korea Selatan yang kebijakannya mirip dengan kita, yaitu tidak melakukan lockdown, tetapi mereka melakukan tes masal, 10.000 tes per hari," tegasnya.
Berdasarkan data terbaru (covid.id) per tanggal 14 April 2020, ada 4577 kasus Covid-19 di Indonesia. Namun jumlah tes yang telah dilakukan sejauh ini hanya 27.075 tes, dan rasio 99 jumlah tes per satu juta populasi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan rasio tes / juta populasi terkecil ke 15 di dunia. Dibandingkan dengan negara tetangga, rasio Malaysia yaitu 2.394 tes per juta populasi dan Thailand yaitu 1.030 tes per juta populasi, membuat Indonesia jauh tertinggal dari penanganan covid-19 di negara lain.
Dirinya pun mengungkapkan pentingnya tes massal itu. "Mengingat bahwa peraturan untuk penanganan Covid-19 di Indonesia dari Presiden adalah bukan “total lockdown” tetapi melalui beberapa kebijakan seperti anjuran dengan melakukan PSBB, WFH, Physical Distancing, dan tes massal. Tes massal ini krusial untuk mengetahui persebaran Covid-19 agar penanganan tepat sasaran," pungkasnya.
View this post on Instagram