"Setiap kita juga harus menyadari bahwa bangsa Indonesia terlahir dalam keberagaman, baik dari aspek identitas budaya, agama, suku, golongan, maupun latar belakang dan pandangan politik. Heterogenitas telah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri, namun juga tidak bisa kita abaikan. Karenanya, merawat dan memperjuangkan kebhinekaan dalam keberagaman, adalah sebuah keniscayaan, sekaligus sebuah tantangan," tandas Bamsoet.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menekankan, tantangan mengelola kemajemukan bukanlah hal mudah. Di era modern sekalipun, di sebuah negara yang maju seperti Amerika, persoalan rasisme masih menjadi noda dalam kehidupan demokrasi. Hadirnya black lives matter kembali menyeruak pasca aksi kekerasan oknum aparat yang menyebabkan tewasnya George Floyd, pria kulit hitam. Sikap rasis terlanjur menyebar luas, bahkan kepada oknum aparat yang seharusnya menjadi pembela dan pelindung nilai-nilai demokrasi.
"Kejadian tersebut menjadi pembelajaran, bahwa merawat kebhinekaan, khususnya dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas tinggi seperti Indonesia, adalah sebuah proses yang tidak boleh berhenti pada satu titik. Merawat kebhinekaan harus menjadi upaya berkesinambungan, juga harus dibangun oleh komitmen bersama, dan menjadi kerja bersama seluruh elemen bangsa," pungkasnya.