Kabargolkar.com - Seluruh jajaran pengurus DEPINAS SOKSI pada hari ini, Rabu (1/6/2022), memperingati Hari Lahir Pancasila.
Ketua Umum DEPINAS SOKSI Ahmadi Noor Supit mememinta seluruh jajarannya, mulai dari DEPIDAR, DEPICAB hingga DEPIANCAB SOKSI, agar bersama-sama merawat Kebhinekaan.
"Bersama kita rawat ke Bhinekaan dengan saling menghormati perbedaan Suku, Agama, Ras, Antar Golongan," kata Supit dikutip dari akun Instagram @depinassoksi.id, Rabu (1/6/2022).
Politikus senior Partai Golkar ini menegaskan, dengan kesatuan seluruh rakyat Indonesia, bangsa ini akan semakin kuat.
"Bergabung bersama menjadi satu kesatuan, yaitu Pancasila. Selamat Hari Lahir Pancasila," tutupnya.
Diketahui, Hari Lahir Pancasila telah ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional.
Dilansir dari BKN, penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila sekaligus Hari Libur Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016.
Penetapan tersebut bertujuan agar pemerintah, masyarakat, dan seluruh komponen bangsa senantiasa mengingat Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Pada 2017, bahkan Hari Lahir Pancasila tidak hanya diperingati pada 1 Juni 2017 saja.
Lebih dari itu, Pemerintah juga mengadakan Pekan Pancasila sejak 29 Mei-4 Juni 2017.
Sejarah Hari Lahir Pancasila
Masih berdasarkan Keppres Nomor 24 Tahun 2016, Hari Lahir Pancasila ditetapkan pada 1 Juni 1945.
Dikutip dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas), pada 1 Juni 1945, Soekarno berkesempatan menyampaikan gagasannya mengenai dasar negara di hadapan para anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI).
Ketika itu, BPUPKI memang tengah mengadakan sidang kedua mempersiapkan dasar negara bagi Indonesia merdeka.
Presiden pertama Republik Indonesia itu pun menyampaikan gagasannya dalam Pidato bertajuk "Lahirnya Pancasila".
Pada awalnya, pidato ini disampaikan Soekarno tanpa judul, tetapi mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat memberikan judul pada pidato “Lahirnya Pancasila”.
Tak hanya tanpa judul, Soekarno melakukan pidato tanpa persiapan tertulis alias disampaikan secara aklamasi.
Narasi yang disampaikan oleh Soekarno ketika dituliskan ke dalam ketikan mencapai tebal 17 halaman.