Kabargolkar.com - Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar Nusron Wahid sukses melakukan literasi dan edukasi tentang ekosistem keuangan syariah di lingkungan pondok pesantren dengan menggandeng Bank Syariah Indonesia (BSI).
Merespon kegiatan tersebut, legislator Golkar asal Jawa Tengah ini mendorong, agar makin banyak yang menggunakan jasa keuangan syariah dan berharap BSI bisa jadi bank syariah terbesar di Asia Tenggara.
"Kita pengin BSI yang merupakan satu-satunya bank BUMN syariah, tumbuh dan menjadi bank terbesar nomor 5 di Indonesia dan menjadi bank syariah terbesar di Asia Tenggara," ujar Nusron Wahid dalam keterangan tertulis dikutip, Rabu (6/9/2023).
Dalam pemberian literasi dan edukasi itu, Nusron Wahid hadir bersama Direktur BSI Tribuana Tungga Dewi, dan Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, KH. M. Najib Hassan.
Menurut Gus Nus, sapaan akrabnya, BSI sangat berpotensi menjadi bank syariah terbesar di Asia Tenggara dan bank nasional nomor lima di Indonesia dalam lima tahun mendatang, karena pendudukan Indonesia 88 persen beragama Islam dan sedang mengalami proses peningkatan kualitas keagamaan
"Sayangnya masih banyak masjid, pondok pesantren dan madrasah serta lembaga keagamaan lainnya seperti majelis taklim, penggunaan transaksinya masih banyak yang menggunakan bank konvensional," imbuhnya.
Saat ini BSI yang merupakan hasil merger Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRI Syariah memiliki aset sebesar Rp 315 triliun. Dengan aset ini BSI saat ini menjadi bank nomor 7 di Indonesia di bawah BRI, Mandiri, BCA, BNI, BTN, dan CIMB Niaga.
Di kawasan Asia Tenggara dari sisi aset BSI masih kalah dibandingkan dengan bank syariah di Malaysia dan Singapura. Salah satu sebab lambannya proses pertumbuhan BSI, menurut Gus Nus, karena layanan BSI yang kurang massif dibandingkan dengan bank konvensional.
"Kantor cabangnya rata-rata ada di perkotaan. Padahal banyak masjid yang ada di desa. Ini problem yang harus dicarikan solusi," jelasnya.