Tb. Ace Hasan Syadzily, Cermin Muslim yang Kaffah, Damai, Modern dan Berkarakter Indonesia
Oleh Irman · · Kabar Parlemen
Dari pernyataan ini kita bisa menarik benang merah, bahwasanya menjalankan ajaran Islam yang kaffah tak berarti harus bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan. Ace yang usia mudanya dihabiskan sepenuhnya di lingkungan pendidikan Islam, justru muncul sebagai pribadi yang memahami betul arti dan realitas perbedaan. Faktanya, ia begitu fasih berbicara soal 4 pilar kebangsaan --Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI-- namun pada saat bersamaan, menjalankan semua kewajibannya sebagai Muslim secara baik.
Ace begitu "ngelotok" kalau bicara soal ke-Indonesia-an, namun jangan heran pula kalau ia mampu membaca alquran dengan tajwid, makhroj dan langgam yang mendekati sempurna. Seorang da'i jebolan Al-Azhar sempat menjadi ma'mum di Masjid Abubakar Ash-Shiddiq, Cileunyi, Kab. Bandung, saat Ace didaulat menjadi imam.
"Saya belum pernah berinteraksi dengan politisi partai nasionalis yang bacaan sholatnya sebaik ini. Makhrojnya bener, tajwidnya bener bahkan nada lagunya pun enakeun. Terus terang kami merindukan aparatur yang fasih berkebangsaan dan sekaligus kaffah beragama. Keduanya tak boleh dipertentangkan," kata Ust. Yadi Saeful Hidayat, belum lama ini.
"Semoga Pa Ace tetap konsisten di Jalan Tengah ini. Harus hati-hati juga, karena musuh-musuh politiknya bisa saja memfitnahnya, hanya karena baik bacaan alquran-nya, diterima di pesantren, disukai para kyai, lalu dicap radikal," ujarnya.
Jadi, sekali lagi, jika Ace tak setuju penayangan film "His Only Son" ditonton anak-anak peserta didik yang beragama Islam itu semata didasari keinginan agar akidah Islam umat tak terganggu, serta mencegah ketegangan yang mungkin terjadi. Salah besar jika itu diartikan bentuk ekstrimisme Islam. (bandungraya.news.id)
Tag: AceHasanSyadzily, Muslim, Indonesia