Jakarta- Komisi IV DPR RI melaksanakan kunjungan kerja spesifik ke
Sulawesi Selatan, dengan salah satu agenda meninjau Balai Besar Karantina (Barantin) di Satuan Pelayanan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Dalam kunjungan tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap peran strategis Badan Karantina, khususnya Balai Besar Karantia.
“Saya sampaikan , ini merupakan garda terdepan dari pengamanan barang-barang kita, baik yang masuk maupun yang keluar, artinya yang impor maupun yang ekspor. Khususnya, terkait komoditas dari pertanian, kehutanan, dan juga perikanan,” kata Panggah dalam keterangannya, Jumat (25/4/26).
Ia menegaskan bahwa di tengah perubahan dinamika perdagangan global, perlindungan tidak lagi mengandalkan hambatan tarif. Oleh karena itu, fungsi Balai Besar Karantina menjadi semakin krusial dan membutuhkan dukungan, baik dari sisi sumber daya manusia maupun fasilitas penunjang. “Peran Balai Besar Karantina sangat penting sehingga perlu dukungan sebagai badan atau sebagai lembaga yang melindungi kita semuanya, kami sepakat dari komisi IV tentunya memberikan dukungan dalam melaksanakan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya agar bisa lebih baik lagi,” terangnya.
Dalam peninjauan di Satuan Pelayanan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Komisi IV menilai fasilitas karantina serta kinerja petugas sudah menunjukkan profesionalisme yang baik. Namun, luasnya wilayah Indonesia dan meningkatnya tantangan biosekuriti menuntut adanya penguatan kapasitas, baik dari sisi infrastruktur maupun SDM.
"Kami sepakat dari Komisi IV mendukung penguatan kelembagaan Badan Karantina Indonesia, termasuk melalui dukungan anggaran agar pelaksanaan tugas dan fungsi karantina semakin optimal. Kami juga sudah mengajukan anggaran untuk " tambahnya.
Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, menyampaikan bahwa penguatan sistem karantina terus dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup digitalisasi layanan, modernisasi laboratorium, serta peningkatan kualitas SDM. Ia menjelaskan bahwa sistem digital telah diterapkan, dan ke depan fokus akan diarahkan pada revitalisasi laboratorium serta penguatan kompetensi tenaga kerja.
“Laboratorium merupakan senjata karantina untuk bertempur. Karena itu kami dorong modernisasi alat, pembenahan gedung, hingga peningkatan kemampuan SDM sebagai bagian dari penguatan seluruh aspek perlindungan keamanan hayati,” jelas Sahat.
Lebih lanjut, Sahat mengungkapkan bahwa mobilitas komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, tergolong tinggi. Data lalu lintas melalui Karantina Sulawesi Selatan menunjukkan volume yang signifikan, menegaskan peran strategis wilayah tersebut sebagai salah satu pusat logistik utama di kawasan timur Indonesia, baik melalui jalur laut maupun udara.
Sepanjang 2025, kinerja ekspor yang difasilitasi Karantina Sulawesi Selatan menunjukkan capaian yang positif. Produk dari wilayah ini telah menjangkau 63 negara dengan total volume ekspor mencapai 355.431 ton dan nilai sekitar Rp11,1 triliun.
Dari sektor perikanan, komoditas unggulan seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, dan karagenan menyumbang nilai sekitar Rp5,6 triliun. Sementara itu, sektor pertanian mencatat kontribusi dari komoditas seperti rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mede, dan porang dengan nilai sekitar Rp5,5 triliun