Ia menambahkan bahwa dampak konflik juga dirasakan melalui terganggunya rantai pasok global. Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan biaya pengiriman dan logistik internasional yang pada akhirnya membebani dunia usaha serta konsumen di dalam negeri.
Di tengah membaiknya situasi, Sarmuji mengingatkan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional sebagai pelajaran dari krisis yang terjadi. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz menunjukkan masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap jalur dan sumber pasokan energi tertentu.
"Perdamaian ini tidak menghapus kerentanan itu. Justru sekarang, dalam situasi lebih tenang, adalah waktu yang tepat untuk membangun ketahanan yang sesungguhnya. Kita harus mendiversifikasi sumber energi dan tidak boleh terlalu bergantung pada satu atau dua negara pemasok saja. Pemerintah perlu menjajaki alternatif sumber energi baru dari berbagai kawasan dan berbagai mitra agar kejadian seperti ini tidak terulang dan tidak membuat kita tak berdaya," ujar Sarmuji.
Ia juga mendorong pemerintah memperluas kerja sama bilateral dengan negara-negara Timur Tengah, termasuk Iran, guna membangun kemitraan jangka panjang di sektor energi maupun perdagangan nonmigas.
"Golkar berharap kesepakatan ini menjadi titik awal rekonstruksi kawasan yang lebih stabil, adil, dan damai, bukan hanya gencatan senjata di atas kertas," tutupnya.