kabargolkar.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar Lodewijk F Paulus menjelaskan, surat instruksi yang diberikan pada Jusuf Hamka menuntut untuk membangun koalisi yang akan dijadikan kekuatan politik dalam Pilkada Jakarta.
Dia juga mengatakan keputusan mengenai Jusuf Hamka alias babah alun ini terkait dicalonkan atau tidak sebagai gubernur ataupun wakil gubernur ditentukan dibulan Agustus.
"Masih ada waktu 1 bulan ini, 10 hari ke depan kita akan lihat survei Jusuf Hamka atau Babah Alun seperti apa," kata Lodewijk saat ditemui di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Kamis.
Lain daripada itu, Jusuf Hamka juga diinstruksikan untuk mencari pasangan gubernur ataupun calon wakil gubernur yang layak berduet dengannya
Ditempat yang sama, Ahmad Doli Kurnia Tandjung mengungkapan dalam sebulan ke depan Golkar akan menilai capaian survei dan jejaring koalisi yang telah dibentuk babah alun. "Nah kalau enggak dapat apa-apa ya sudah enggak jadi calon kan gitu. Bisa jadi (terbit surat instruksi untuk orang lain) tapi selama ini kalau Golkar sudah keluarkan surat instruksi biasanya jadi SK," kata Waketum DPP Partai Golkar ini.
Jusuf Hamka sendiri mengaku terkejut mendapatkan kedua surat itu. Dua tugas tersebut dinilainya cukup berat.
Dia memberi tanggapan, "Kalau Allah berkehendak, yang berat bisa jadi ringan. Akan tetapi, kalau Allah tidak berkehendak, yang ringan pun jadi berat," .
Menanggapi dengan siapa dia akan berduet dalam Pilkada Jakarta, Babah Alun mengaku cocok dengan siapa saja.
"Saya bisa jadi wakilnya Mas Kaesang, saya bisa jadi wakilnya Pak Ahok, saya bisa jadi wakilnya Pak Anies, siapa saja. Bahkan, kalau Pak Ridwan Kamil juga mau, saya bisa menyesuaikan diri. Saya enggak ada masalah,” pungkasnya.