Sebagai pembanding, ia merujuk pada sejumlah capaian sektor ESDM sepanjang 2025 yang dilaporkan oleh Kementerian ESDM. Capaian tersebut mencakup produksi siap jual (lifting) minyak bumi, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), pemenuhan kebutuhan gas bumi, serta pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
Pertama, Realisasi Lifting Minyak Bumi Mencapai Target APBN.
Kementerian ESDM melaporkan rata-rata lifting minyak bumi pada 2025 sebesar 605,3 ribu barel per hari atau sekitar 100,05 persen dari target APBN. Angka ini meningkat dibandingkan realisasi 2024 sebesar 580 ribu barel per hari. Capaian tersebut juga dilaporkan sebagai pencapaian target tahunan pertama sejak 2016.
Kedua, Realisasi PNBP Kementerian ESDM Melampaui Target.
Kementerian ESDM melaporkan penerimaan sebesar Rp138,37 triliun atau 108,56 persen dari target 2025 pada cakupan penerimaan yang dicatatkan melalui kementerian. Meski demikian, capaian tersebut perlu dibedakan dari realisasi PNBP pada setiap subsektor. PNBP sumber daya alam minyak dan gas bumi, misalnya, dilaporkan belum mencapai target akibat harga minyak yang lebih rendah daripada asumsi APBN.
Ketiga, kebutuhan gas bumi nasional dipenuhi dari produksi domestik.
Berdasarkan laporan Kementerian ESDM, kebutuhan gas bumi Indonesia sepanjang 2025 dipenuhi tanpa impor gas bumi. Dari total pasokan sekitar 5.600 BBTUD, sebanyak 3.908 BBTUD atau sekitar 69 persen dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, sedangkan sisanya dialokasikan untuk ekspor.
Keempat, Pengembangan Energi Baru Dan Terbarukan Terus Berjalan.
Kementerian ESDM melaporkan bauran EBT mencapai 15,75 persen pada 2025, dengan kapasitas terpasang sebesar 15.630 megawatt hingga Desember 2025.
Kelima, menempatkan posisi ketiga Persepsi Kinerja Menteri Terbaik
Indonesia Political Opinion telah mengeluarkan hasil survei tentang Evaluasi Kebijakan Publik dan Stabilitas Sosial-Politik Nasional Periode Agustus 2026 yang dimana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menduduki peringkat ketiga persepsi kinerja menteri terbaik dengan perolehan 32.0%
“Skor minus 159 untuk Menteri ESDM, Pak Bahlil, sangat lah tidak relevan dengan seluruh capaian kinerja Pak Bahlil. Saya menduga hasil penilaian dari CELIOS adalah by order yang bertujuan untuk memperburuk citra Presiden Prabowo dan Menko Bahlil yang bersifat subjektif dan tendensius" tegas Muyassar.