Kabargolkar.com - Ketua DPD Partai Golkar Aceh TM Nurlif mengatakan, saat ini ada pihak atau kelompok tertentu yang ingin memisahkan orang Aceh dengan identitas keacehannya.
"Boleh jadi ada pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung, membuat jarak orang dengan akar keacehannya," kata Nurlif dalam keterangan persnya, Minggu (2/1/2022).
Nurlif mengungkapkan, kegusaran mulai dirasakan setelah melihat generasi Aceh yang tidak lagi mengaplikasi nilai-nilai ke-Aceh-an.
"Contoh, tidak ada hari ini yang meminta agar ada peraturan bahwa sejarah Aceh harus dipelajari di sekolah. Dalam seminggu mungkin bisa dua jam saja. Ada tidak hari ini sekolah yang mengajarkan apa itu budaya Aceh," ujarnya.
Bicara tentang ke-Aceh-an, menurut Nurlif ada dua hal yang sangat melekat dengan orang Aceh.
Pertama, ikonnya orang Aceh adalah Islam. Kedua, adat istiadat dan kebudayaan.
"Saya mau tanya sekarang, apakah ada 50 persen anak muda Aceh sekarang baik laki-laki maupun perempuan yang konsen (mempelajari) dengan adat istiadat dan budaya?," tanyanya.
Apabila adat istiadat dan budaya Aceh tidak dilanjutkan pelestariannya oleh generasi muda sekarang, Nurlif khawatir beberapa tahun ke depan adat istiadat dan budaya Aceh akan hilang begitu saja.
"Kalau bukan mereka yang aktif mempertahankan adat istiadat dan budaya, siapa yang bisa menjamin adat istiadat akan lestari di Aceh," tegasnya.
"Jika sejarah Aceh sudah hilang, adat istiadat sudah hilang, nilai-nilai Islam di Aceh sudah memudar, sudah selesai ke-Aceh-annya. Identitas ke-Aceh-an hilang," sambungnya.
Menurut Nurlif, kondisi inilah yang diinginkan oleh orang yang bukan orang Aceh.
Dia mengklaim, saat ini ada pihak atau golongan tertentu tidak menginginkan Aceh kuat oleh budaya, agama, dan sejarah.
"Ada mungkin golongan yang menginginkan itu, untuk kepentingan mereka yang kita tidak bisa baca. Saya khawatirkan, kata Aceh itu tetap ada tapi orang Aceh lepas dari akar ke-Aceh-annya," tutup Nurlif.