kabargolkar.com - Esa Mariya Puspitasari, S.Psi., M.Psi. Psikolog dari Rumah Psikologi Golkar
(RPG) Sidoarjo melihat kasus kekerasan atar siswa di lingkungan pendidikan atau sekolah seperti yang terjadi di Insan Cendekia Mandiri (ICM) disebabkan berbagai faktor.
Menurut Esa faktor Keluarga yang disfungsional bisa menjadi salah satu penyebabnya. Saya mencontohkan jika di rumah tempat anak tinggal tidak menjamin kenyamanan dari sisi Psikologis, seperti orang tua tidak dekat dengan anak, orang tua sering bertengkar di hadapan anak, orang tua sering merasa stres dan melampiaskan stres itu ke anak, apalagi orangtua sering melakukan kekerasan baik verbal (meremehkan, menghina, membentak, dan melabeli anak dengan sebutan anak bodoh, nakal dan lainya) atau kekerasan fisik (memukul, mencubit dan kekeraaan fisik lainnya).
“Perlakuan anak yang diterima atau dilihat atau didengar di rumah oleh orang tua yang membuat anak menjadi meniru dan mempraktikkan apa yanh dia dapat di keluarga ke dunia luar salah satunya di dunia Pendidikan atau dilingkungan mereka bersekolah,” kata Esa , Rabu (28/9/2022).
Lanjut Esa, siswa yang cenderung bermasalah secara psikologis seperti merasa rendah diri, tidak berharga, tidak pandai, tidak berguna, tidak dicintai, dan kurang perhatian maka akan mencari perhatian meskipun cara yg dia gunakan negatif.
“Jika siswa atau anak kurang perhatian, maka mereka akan mecari perhatian orang disekitarnya meskipun itu malah berdampak negatif bagi sang anak atau siswa tersebut,”jelasnya.
Esa yang juga founder dari Biro Lembaga Pelayanan Psikologi dan Pengembangan SDM (LP3S) SAKA ini mengungkapkan jika lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan juga menjadi faktor munculnya kekerasan yang dilakukan anak atau siswa.
“Di lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan sebenarnya banyak terjadi kekerasan secara verbal maupun fisik antar siswa dan dianggap wajar oleh mereka karena ketidak tahuan mereka (siswa red). Contoh saja di lingkungan sekolah atau dunia pendidikan pasti ada kakak kelas dan adek kelas atau senior junior, saat ada anak atau siswa yang perna mengalami kekerasan verbal maupun fisik dari seniornya dulu akhirnya ketika dia menjadi senior, dia atau siswa itu akan melakukan apa yang dia dapat dan dia terima dulu ke juniornya,” ungkapnya.
Untuk menjawab faktor faktor itu dan agar kasus kekerasan anak atau siswa di dunia pendidikan tidak terulang kembali, Esa memaparkan jika pihak Sekolah atau Lembaga Pendidikan bisa lebih menggali lagi mengenai kompetensi siswa secara psikologi.
“Seperti jika siswa tumbuh dalam keluarga yang disfungsional, maka pihak Sekolah atau lembaga pendidikan perlu memahami bahwa siswa tersebut memiliki potensi melakukan kekerasan di sekolah atau bisa juga siswa tersebut jadi object kekerasan. Kemudian secara periodik pemberian sosialisasi mengenai tindakan kekerasan di sekolah juga sangat penting disampaikan ke siswa. Misalkan pengertian, jenis, dan cara untuk mengatasi ketika siswa menjadi korban kekerasan,” papar Esa