kabargolkar.com, JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan, potensi ekspor
pangan kita sangat melimpah. Jenis pangan Indonesia juga sangat beragam, yaitu mulai dari padi-padian, ikan, kacang-kacangan, hingga sagu-saguan.
Pernyataan ini disampaikan saat memberikan sambutan pada Webinar Inovasi Pangan Nasional yang diadakan oleh Accelerice Indonesia. Webinar itu juga menghadirkan pakar kuliner William Wongso, Bapak Teknologi Pangan Indonesia Prof. F.G. Winarno, Ambassador of Scholars Indonesia bagian Food Technology Ravindra Airlangga, dan Direktur Utama SMESCO Indonesia Leonard Theosabrata sebagai pembicara.
“Sangat banyak sekali jenis bahan pangan yang kita hasilkan. Semuanya bisa saja diekspor. Jadi, bukan hanya terbatas pada mi instan, kakao, atau kopi, tetapi semua produk pangan bisa saja diekspor,” kata Jerry dalam siaran persnya, Kamis (27/8/2020).
Kuncinya, menurut dia, adalah inovasi dalam semua aspek baik pengolahan, pemasaran, kemasan, dan sebagainya. Dalam pengolahan, sebuah produk harus mengikuti standar-standar yang diterapkan oleh negara sasaran ekspor.
Sebuah negara bisa saja menetapkan standar kesehatan, ekologis, dan sebagainya yang harus dipenuhi oleh para eksportir dari negara lain. Selain itu, pendekatan-pendekatan dalam pemasaran harus dilakukan secara komprehensif mulai dari pameran, penjajakan kesepakatan dagang (business matching), iklan, dan seterusnya.
Dalam pengemasan, produsen juga harus bisa memenuhi standar dan ekspektasi konsumen agar menarik serta meningkatkan nilai tambah.
Jerry mengatakan, Kementerian Perdagangan memberikan fasilitasi bagi inovasi-inovasi dalam pengembangan produk ekspor.
“Sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Perdagangan, dalam hal ekspor kita ini ada di hilir. Untuk produksi atau di hulu, ada di kementerian lain seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, dan sebagainya. Kami memberikan fasilitasi dalam pemasaran dan kemudahan-kemudahan perdagangan lainnya,” tambah mantan anggota Komisi I tersebut.
Jerry mengatakan, hal yang tidak boleh dilupakan adalah adanya perjanjian perdagangan internasional dalam menunjang ekspor produk pangan. Perjanjian perdagangan itu penting sekali dalam memperluas akses produk-produk Indonesia, termasuk produk pangan, baik yang mentah maupun olahan. Dengan perjanjian perdagangan, tariff masuk produk dari Indonesia akan diberikan keringanan atau bahkan bisa nol persen. Nah, dari situ secara harga kita bersaing, ungkap dia.
Menurut dia, sudah banyak perjanjian perdagangan yang diselesaikan. Oleh karena itu, ia berharap para produsen Indonesia dapat memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang dihasilkan dari perjanjian perdagangan itu. Tanpa pemanfaatan yang optimal, perjanjian perdagangan tidak akan memberikan manfaat nyata bagi produk Indonesia. Karena itu, Kemendag makin meningkatkan fasilitasi ekspor.
“Kami punya lima Free Trade Area (FTA) Center. Para produsen bisa berkonsultasi mengenai cara melakukan ekspor, mekanisme ekspor, dan lain sebagainya. Jadi, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi FTA Center. Kami pasti akan membantu seoptimal mungkin. Apalagi memang sudah menjadi visi Presiden RI untuk meningkatkan ekspor. Tugas kamilah untuk mengimplementasikan visi Presiden tersebut,” ungkap Jerry.
Dia menyadari, meningkatkan ekspor pangan adalah tantangan tersendiri. Sektor pertanian dan pangan biasanya lebih proteksionis dibandingkan dengan sektor lain. Ini terjadi di semua negara karena sektor pangan biasanya menyangkut kepentingan yang sangat kompleks.
Tetapi hal itu tidak berarti tidak bisa diatasi