kabargolkar.com, GLASGOW - Membahas masa depan kelautan dan investasi dalam konteks iklim
dengan para pemimpin global, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan turut membuka High Level Dialogue on Driving Ocean and Investment in Climate Actions. High Level Dialogue ini diselenggarakan dalam sesi Paviliun Indonesia pada rangkaian acara COP26 pada Selasa, (02/11/2021).
“Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan penduduk hingga 270 juta jiwa. Begitu banyak potensi alam yang kami miliki tidak menutup kemungkingan ancaman perubahan iklim ekstrim yang begitu besar. Indonesia terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menghadapi hal tersebut,” Buka Menko Luhut.
Dalam sesinya, Menko Luhut menekankan bagaimana ketersediaan karbon di Indonesia begitu melimpah dan mampu menjadi pengganti penting bagi minyak bumi dan mengurangi efek emisi gas rumah kaca, “Pasar kini akan bergerak menuju bisnis yang sustainable. Presiden RI Joko Widodo telah menandatangani kesepakatan tentang harga karbon, demi mendukung pemenuhan target NDC Indonesia,” tegasnya.
Menko Luhut juga menekankan bagaimana diskusi bilateral Presiden RI Joko Widodo dengan tuan rumah Perdana Menteri Boris dan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden demi menguatkan hubungan kita dalam berbagai langkah strategis kedepannya. Presiden RI mengajak dunia untuk saling mendukung dan tidak saling menjatuhkan, demi menyelamatkan bumi dari keterpurukan.
Perjanjian Paris dalam Article 5 telah menekankan pentingnya laut sebagai penyimpan emisi gas rumah kaca, laut juga mampu menyerap bahkan menampung dampak buruk ini. Sehingga, Indonesia juga menunggu finaliasai negosiasi Article 6 yang masih berkaitan.
“Permasalahan karbon begitu penting, kami terus melakukan rehabilitasi mangrove dan mengajak berbagai negara di dunia untuk berkontribusi bersama, UAE, Jerman, dan negara lainnya pun telah bersama-sama kami mengawal hal ini,” ungkapnya.
Indonesia juga menjadi bagian dari Forum Negara Kepulauan/ Archipelagic Island State (AIS) yang paling rentan terkena dampak dari perubahan iklim. Diperlukan tindakan mitigasi demi meningkatkan ketahanan seluruh negara yang ada, melalui berbagai investasi dan kerjasama tiap-tiap negara.
Menko Luhut menekankan bahwa Indonesia telah meningkatkan angka Target NDC nasional demi meningkatkan ketahanan dan adaptasi perubahan iklim, “Indonesia siap untuk menurunkan angka emisi hingga 41% bahkan 50% jika seluruh dunia dapat memberikan dukungan yang kuat,” ungkapnya. Komitmen yang kuat ini terus ditunjukan melalui berbagai program seperti program rehabilitasi lahan mangrove dan gambut, program penguatan ketahanan pesisir seperti implementasi adaptasi berbasis ekosistem, pengendalian pencemaran laut, dan restorasi terumbu karang.
Strategi Jangka Panjang untuk Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim Indonesia menjadi panduan bersama untuk mencapai target Net Zero Emission juga telah diadopsi dan diratifikasi. Indonesia juga tengah menyiapkan FOLU Net Sink (Penyerapan Bersih) karbon 2030, dan tengah mengambil langkah untuk menurunkan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi fungsi hutan. Dengan komitmen ini, Indonesia akan mencapai targetnya pada tahun 2060 mendatang.
Indonesia juga terus mengupayakan sumber pendanaan internasional melalui pertemuan bilateral, regional, dan multilateral. AS dan Inggris juga akan mendukung Indonesia melalui dana konsesi