"Sambil tingkatkan kemasannya, administrasi rapih, tingkat kualitas belajar eksport, lewat fasilitas eksport di Kemendari RI serta saran dan masukkan dari jajaran Kemendag RI," ujar dia.
Karena itulah, di Rumah Produksi IKM Sagerat Kota Bitung juga akan fokus galakkan buat minyak goreng.
“Karena dibeberapa tempat kerap disampaikan, keterlaluan ini Kota Bitung ada tiga pabrik minyak goreng.
Sebelum ada pabrik ini apakah kita tergantung dengan migor dari pabrik-pabrik ini, untuk konsumsi migor. Dulu dapat migor dari hasil olahan produksi rumahan,” kata dia.
Sehingga saat ini di 69 kelurahan, mulai dilahirkan satu kelompok disetiap kelurahan pembuat minyak goreng produksi rumah tangga.
Di pelopori di Kecamatan Matuari sudah ada sembilan kelompok dari Delapan Kelurahan yang ada, dengan hasil produksi sekitar 250 botol air kemasan.
Dengan begitu, gebrakan dari kecamatan Matuari bisa intervensi pasar ager bantu pemerintah terkait masalah Migor.
Dan di sentra IKM ada delapan line membuat migor, hingga berujung pada pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) dari Kelapa yang sudah sempat di eksport ke Belanda dan Singapura.
Di IKM ini delapan line pengolahan atau pembuatan produk, dari bahan Kelapa menggunakan alat dari bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2017 dan 2019 dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian.
Wali Kota Bitung berharap, dengan adanya fasilitas dan infrastruktur pendukung di rumah produksi IKM yang representatif pelaku UMKM dan IKM bisa gunakan sebaiknya.
“Karena fasilitas representarif ini punya rantai nilai yang cukup banyak, dan berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi di Kota Bitung bersama stekholder lainnya.
Dengan sasaran tingkatkan, kualitas produk yang dihasilkan makin hari makin baik, dan tingkatkan upaya eksport dan pertahankan hasil produksi,” tandasnya.