kabargolkar.com - Menteri Koordinator Luhut B. Pandjaitan membahas kekayaan dalam keanekaragaman hayati
karbon biru yang akan memainkan peran kunci dalam mengatur kesehatan laut dalam United Nation Ocean Conference 2022 yang diselenggarakan di Lisbon, Portugal, pada Senin (27/6/2022).
Menurut Menko Luhut, Indonesia berkomitmen dalam pemberantasan polusi plastik laut, dan meningkatkan pemahaman tentang laut dan iklim. Indonesia berjanji untuk mendorong kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan. Hal ini mengacu pada prinsip Indonesia sebagai negara maritim dimana perairan yang membentang sekitar 6,4 juta kilometer persegi telah menyediakan keanekaragaman hayati laut yang berada di antara 17.500 pulau dan sekitarnya.
“Tujuannya adalah menyediakan ruang dan waktu yang substansial yang memungkinkan populasi ikan yang besar. Indonesia juga fokus pada produk akuakultur seperti udang, kepiting, lobster, dan rumput laut yang memiliki nilai strategis untuk menyerap karbon dan menjadi bahan bagi industri,” ungkap Menko Luhut.
Penangkapan ikan secara ilegal juga sering terjadi pada perairan Indonesia. Menko Luhut meluncurkan 3 (tiga) inisiatif utama dalam bidang pencegahan praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan dan memerangi kejahatan di bidang perikanan.
“Pertama, meningkatkan peraturan nasional tentang persyaratan dan mekanisme sertifikasi hak asasi manusia di bidang perikanan. Kedua, memperkuat proses implementasi dan pemantauan perikanan tangkap berbasis kuota dengan meningkatkan kemampuan pengawasan berbasis satelit. Ketiga, memimpin proses pembuatan norma internasional dan regional untuk memperkenalkan kerja sama yang lebih baik dan penegakan hukum yang efektif. Fokus utama kami tidak hanya terletak pada perluasan area. Upaya kami juga diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kelautan dan perikanan,” lanjut Menko Luhut.
Pada bidang pelestarian dan perlindungan laut, Indonesia telah memperluas kawasan lautnya menjadi 28,4 Juta hektar, melebihi komitmennya sebesar 20 Juta hektar.
“Indonesia menjaga komitmen untuk memperluas kawasan lindung laut menjadi 32,5 juta hektar pada tahun 2030. Hari ini kami telah mencapai 86,5% penyelesaian target 2030,” ungkap Menko Luhut
Kemenko Marves bekerja sama dengan mitra strategis untuk mengembangkan skema blue financing yang strategis. Tujuannya untuk memfasilitasi investasi penting dalam bantuan teknis, penciptaan area perlindungan laut berbasis masyarakat, dan peningkatan manajemen. Sehubungan dengan komitmen pencegahan pencemaran plastik laut, Indonesia mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Plastik.
Pada awal tahun 2022, Indonesia, menginisiasi program “Bulan Cinta Laut” atau ”Love the Ocean Month” . Program ini bertujuan untuk mendorong partisipasi nelayan dalam menangani sampah laut.
“Dalam sebulan, nelayan didorong mengumpulkan sampah laut dibandingkan menangkap ikan. Program ini telah dilakukan di seluruh wilayah Indonesia untuk mengurangi limbah laut sebesar 70% sebelum 2025. Dalam 3 (tiga) tahun terakhir, Indonesia mampu mengurangi kebocoran sampah hingga 28,5%. Lautan memainkan peran penting dalam mempertahankan semua kehidupan di bumi dengan menyerap 30% dari emisi karbondioksida,” tambah Menko Luhut.
Menanggapi hal itu Kemenko Marves menyebutkan Indonesia terus mengembangkan kebijakan dan mengalokasikan sumber daya untuk memahami laut dan iklim. Dalam upaya tersebut menciptakan platform nasional bernama Data Batimetri Nasional Indonesia