Jakarta – Pembangunan fasilitas produksi melamin dengan kapasitas mencapai 120 ribu ton per tahun resmi dimulai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur. Proyek yang digarap PT GEABH Joint Technology ini disebut sebagai pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$600 juta atau setara Rp10,2 triliun. Menurutnya, pembangunan pabrik ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi industri berbasis gas alam di Indonesia.
"Melalui proyek ini, gas alam akan diolah menjadi amonia cair yang selanjutnya dikembangkan menjadi produk turunan seperti urea, melamin dan amonium nitrat yang memiliki nilai tambah tinggi," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (10/4/2026).
Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal II tahun 2027. Fasilitas produksi akan dibangun secara terintegrasi, mulai dari pengolahan gas alam menjadi amonia, dilanjutkan ke produksi urea, hingga menghasilkan melamin sebagai produk akhir.
Kehadiran proyek ini diyakini dapat memperkuat sejumlah sektor strategis nasional seperti pertanian, industri kimia, dan manufaktur. Selain membuka peluang ekspor, proyek tersebut juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global serta meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.
"Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk memastikan iklim investasi yang kondusif. Kami akan terus memberikan dukungan dan insentif yang diperlukan agar PT GEABH Joint Technology serta seluruh investor di KEK ini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," tutur Airlangga.
Pada tahap awal pembangunan, proyek akan difokuskan pada pengoperasian unit utama dengan kapasitas produksi 800 ton per hari amonia, 1.500 ton per hari urea, dan 200 ton per hari melamin. Selanjutnya, pengembangan akan diarahkan pada penguatan infrastruktur pendukung dan peningkatan efisiensi rantai produksi.
Pengembangan kawasan industri ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam RPJMN 2025–2029 yang menitikberatkan pada hilirisasi industri dan penguatan kawasan ekonomi khusus sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.
KEK Gresik sendiri menjadi salah satu kawasan prioritas nasional yang diproyeksikan berperan penting dalam mempercepat industrialisasi, meningkatkan ekspor, dan mendorong pemerataan pembangunan daerah. Di Jawa Timur, sektor manufaktur tercatat menyumbang sekitar 31,32% terhadap perekonomian daerah, sementara di Kabupaten Gresik kontribusinya mencapai 52,58% terhadap PDRB setempat.