28 Januari 2021
Akhir Pekan, Piringan Hitam dan Airlangga Hartarto
  Witarmin
  09 Januari 2021
  • Share :

oleh : Khalid Zabidi

kabargolkar.com - Piringan hitam bagi sebagian orang adalah barang kuno ketinggalan zaman, selain sudah banyak kemajuan teknologi baru pemutar musik piringan hitam juga sudah jadi barang langka.

Sejarah mencatat piringan hitam (Vinyl Record) dipatenkan pertama kali oleh Leon Scott 1857 yang kemudian berkembang pada masa 50 dan 60an sebelum era pita kaset (cassete) muncul.

Di era Indonesia merdeka, ada 2 produsen piringan hitam pertama, Lokananta atau lengkapnya Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan RI yang dirintis oleh 2 orang, Oetojo Soemawidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero di Solo tahun 1956 dan Irama di Menteng Jakarta pada tahun 1954 milik Suyono Karsono (tutup tahun 1967). Mereka sempat mengisi dan merasakan era keemasannya pada tahun 60an hingga 70an yang akhirnya kemudian redup.

Piringan hitam walaupun sudah kuno namun belakangan piringan hitam kembali ngehit atau populer di kalangan pecinta musik. Selain kualitas suara yang bagus juga sebagai barang koleksi berharga.

Tidak ketinggalan, Airlangga Hartarto yang tampak asyik berjaket hitam memilih koleksi piringan hitam di sebuah toko di Blok M Plaza, paperpotrecord sebuah toko piringan hitam menjadi pilihannya, tampak sore itu Airlangga mengisi akhir pekan awal Januari 2021 bersama istrinya, Yanti Airlangga.

"Koleksi saya belum banyak, masih memburu piringan hitam lama tahun 80an dan 90an," jelas Airlangga disela-sela malam minggu bersama keluarga.

Setelah memilih beberapa piringan hitam yang dipandu staff toko kemudian Airlangga atau banyak dipanggil dengan AH mencoba memutar piringan di gramofon untuk mengecek kualitas suaranya, tampak para staff toko semua adalah anak-anak muda. Mereka tidak canggung sama sekali bahkan terlihat ahli dengan piringan hitam dan alat pemutar yang mungkin umurnya jauh di atas umur mereka sendiri.

Album pop piringan hitam pertama di Indonesia berjudul Sarinande pada tahun 1956 oleh Band The Progressif yang di gawangi oleh Nick Mamahit sang pianis, sebuah album dengan lagu beraliran jazz.

Beberapa tahun belakangan, grup- grup musik Indonesia juga memproduksi album musik mereka pada permukaan vinyl atau piringan hitam, antara lain, d'Masiv, Naif, SID, Sore, Pandai Besi, Maliq& Essential, Mocca, White Shoes&Couples Company, Seringai, The S.I.G.I.T dan The Brandals. Selain suara yang bagus, klasik rekaman pada piringan hitam sulit untuk di bajak dan albumnya menjadi barang koleksi karena diluncurkan dengan jumlah terbatas.

Kembali maraknya generasi muda menggilai piringan hitam bisa jadi mengacu kepada gerakan Record Store Day yang sangat populer di Amerika pada tahun 2007 yang diselenggarkan tiap satu hari Sabtu di bulan April dan Black Friday di bulan November, Record Store Day diselenggarakan tiap tahun sejak 2008 hingga 2020.

Beberapa film produksi 90 dan 2000an yang membuat anak muda kembali menggilai piringan hitam antara lain, High Fidelity tahun 2000, 500 Days of Summer tahun 2009, dan Pirate Radio tahun 2009 dan masih banyak lagi.

Koleksi piringan hitam favorite Airlangga Hartarto jatuh pada penyanyi Rock n Roll tahun 60an, Elvis Presley, penyanyi Jazz Alwin Lopez Jarreau atau dengan nama populernya Al Jarreau dan grup Chicago.

 "Kalau penyanyi yang baru, seperti Andrea Bocelli dan Ed Sheeran," ungkap Ketua KPC-PEN yang juga Menko Perekonomian RI ini.

Sore hampir malam, Airlangga dan istri tidak bergegas pulang setelah memboyong koleksi piringan hitam kesayangan, mereka sempatkan mampir ngopi dan snacking di kedai kopi kekinian, Kopi Kenangan.

Bisa jadi setibanya di rumah, Airlangga bersama keluarga akan melewati malam minggunya dengan mendengarkan koleksi piringan hitam terbarunya.

Komentar
Tulis Komentar
Kode Acak
Menyajikan berita terhangat dan terpercaya langsung melalui handphone anda
© 2020 Kabar Golkar. All Rights Reserved.