kabargolkar.com - Kurikulum pendidikan dituntut menyesuaikan dengan perkembangan yang terus terjadi di tengah wabah Covid19. Kurikulum 2013 yang diacu kini dianggap perlu disesuaikan karena tidak memadai untuk model pembelajaran jarak jauh pada masa wabah ini.
Penyesuaian ini perlu dilakukan untuk menjamin agar guru, siswa dan sekolah dapat secara maksimal melakukan kegiatan belajar mengajar sesuai bahan ajar dan aplikasi pengajaran melalui teknologi informasi.
Momentum penyesuaian kurikulum di tengah wabah ini sangat penting, selain mengembangkan kurikulum mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan juga mengantisipasi kebutuhan kurikulum yang lebih sederhana, membumi, bervisi masa depan dan sesuai dengan keadaan situasional guru, siswa dan orangtua.
Unifah Rosyidi Ketua Umum PGRI menilai kurikulum saat ini masih terlalu padat sehingga sulit diterapkan untuk pembelajaran jarak jauh. Perlu disusun kurikulum yang lebih ringkas dan aplikatif. "Masa pandemi ini momentum tepat untuk mentranformasikan hal-hal besar dan mendasar terhadap kurikulum pendidikan sebelumnya padat konten menjadi padat literasi dan numerasi." ujar Unifah.
Senada dengan Unifah, Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Retno Listyarti juga mengingatkan penyesuaian lain.
"Ketika normal baru nanti, anak-anak belajar bergantian, sistem sif demi jaga jarak, tidak ada jam istirahat, jam tatap muka diperpendek dan sebagainya. Kalau jam belajar saja dipersingkat, kurikulum juga harus menyesuaikan, misalnya untuk SD dari 60% kompetensi dasar dapat dikurangi menjadi 30%," katanya. Dalam kondisi sekarang jam sekolah dan jam ujian atau ulangan dibuat fleksibel dan model pembelajaran harus lebih luwes.
Education Specialist Unicef Indonesia Nugroho Indera Warman mengatakan, harus terjadi kesepakatan antara para pemangku pendidikan tentang target pembelajaran yang harus dipenuhi di masa wabah ini. "Ini perlu diperjelas oleh Kemendikbud," tutup Nugroho.