"Saya menjadi anggota Fraksi Utusan Golongan MPR mewakili golongan pengusaha sejak 1988, sejak itulah saya masuk dunia politik walaupun dari jalur dunia usaha," ujar sosok yang juga akrab dipanggil Bang Ical ini.
Karir tertinggi ARB dalam dunia politik para pengusaha adalah menjadi Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) selama dua periode, 1993-1998 dan 1998-2003, ARB sendiri adalah pengusaha bumiputera pertama yang menjadi pemimpin organisasi para pengusaha tersebut.
Gonjang-Ganjing 1998 dan Lapindo
Saat krisis moneter 1998 melanda Indonesia, ARB adalah salah satu pengusaha yang hampir bangkrut akibat gonjang-gonjang ekonomi yang berkembang menjadi krisis politik kejatuhan Orde Baru tersebut.
"Utang perusahaan lebih besar dari nilai aset yang kami miliki, cuma selisih Rp 50.000,-, jadi saya pernah lebih miskin dari pengemis," Bang Ical mengenang masa-masa paling kritis dalam hidupnya.
Tetapi dengan tekad dan komitmen yang kuat, Grup Bakrie berhasil keluar dari krisis saat sukses mengakuisisi tiga perusahaan batubara menjadi satu perusahaan bernama Bumi Resources. Pada masa jayanya, Bumi Resources adalah perusahaan dengan julukan 'saham seribu umat' saking populernya di Bursa Efek Jakarta.
"Siapa saja bisa membeli saham Bumi, sampai sejuta umat," kenang ARB.
Sosok yang pernah tercatat sebagai pengusaha terkaya Indonesia tahun 2006 itu sempat jatuh karena kasus lumpur Lapindo, yang sebenarnya ia menangkan di pengadilan. Yang menarik, karena almarhum ibunya memerintahkan ARB untuk membeli tanah desa yang tenggelam karena lumpur kemudian mengganti untung kepada warga.
"Saya membeli tanah di Porong, Sidoarjo itu lebih tinggi dari Nilai Jual Obyek Pajak, warga yang kehilangan rumah dan putus sekolah kami bantu, itu semua karena perintah ibu yang kami hormati memerintahkan kami mengganti untung dengan rezeki kami sendiri," tegas ARB.
Peristiwa nasional tersebut sedemikian menarik, konon Cak Nun sendiri berinisiatif membantu memastikan agar warga yang mendapat ganti untung disumpah pocong demi menghindari penipuan.
Mengurusi Rakyat Kelaparan dan Organisasi Papua Merdeka
Hal yang paling ia kenang selama berpolitik adalah saat ARB menjadi Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dalam Kabinet Indonesia Bersatu pada tahun 2005-2009, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi pemimpin republik hasil pemilihan langsung pertama dalam sejarah negara kita.
ARB yang ikut mendukung SBY sejak putaran pemilu pertama diangkat menjadi Menko Perekonomian, kemudian dalam reshuffle pertama menjadi Menko Kesra, tak lama kemudian terjadilah bencana kelaparan di Yahukimo akhir tahun 2005.
"Saya turun langsung dengan helikopter ke pedalaman Papua, menurut para kepala suku di sana sayalah pejabat pemerintahan pertama yang datang langsung ke pegunungan Papua, saat yang lain tidak berani datang karena khawatir diserang," katanya.
Kekhawatiran tersebut wajar karena gerakan Organisasi Papua Merdeka memang berpusat di pegunungan dan daerah pedalaman Papua.
"Orang Papua sebenarnya memerlukan pendekatan kesejahteraan selain pendekatan keamanan," lanjutnya.
Karena pendekatan kesejahteraan yang intensif dilakukan ARB, banyak tokoh OPM yang tersentuh dan memilih bergabung kembali dengan NKRI, salah satunya adalah Nicholas Jouwe yang tinggal di Belanda dan berhasil dibujuk ARB menemui Presiden SBY di Cikeas pada Januari 2010.
Pengalaman menjadi aktivis, pengusaha, dan menteri itulah yang membawa ARB maju dalam Munas Golkar 2009 di