Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Serapan Gabah Petani Mengkhawatirkan
  Kabar Golkar   02 Juli 2018
Oleh: Tonny Saritua Purba* kabargolkar.com - Pemerintah mentargetkan Bulog pada tahun 2018 agar dapat menyerap gabah petani sebanyak 2,7 juta ton. Upaya penyerapan gabah maupun beras saat panen raya perlu dilakukan oleh Bulog sekaligus juga untuk menjaga harga gabah di tingkat petani dan untuk mengisi cadangan pangan pemerintah. Serapan gabah petani juga dilakukan untuk membantu petani memperoleh harga yang menguntungkan, petani bisa termotivasi dalam menjalankan usahanya agar jangan merugi karena petani padi adalah pahlawan pangan yang sebenarnya, mereka inilah yang memproduksi dan menghasilkan pangan untuk 265 juta jiwa penduduk NKRI. Harga rata-rata gabah dan beras di pasaran masih berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Hal tersebut menyebabkan serapan gabah oleh Perum Bulog masih relatif minim, sementara target penyerapan pada tahun ini sebesar 2,7 juta ton. Bulog akan sulit menyerap gabah petani dengan kondisi harga gabah yang tinggi di pasar. Walaupun demikian Bulog tetap akan melakukan penyerapan dengan skema komersial. Sebenarnya jika harga pasar yang berada di atas HPP merupakan momen untuk para petani menikmati keuntungan lebih besar, petani tidak akan menjual gabah ke Bulog tetapi akan menjual ke pengepul atau ke penggilingan beras, hal ini yang membuat Bulog sulit untuk menyerap gabah dari petani padi. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, Bulog berfungsi sebagai penyangga harga sementara dari segi konsumen, Bulog juga menjalankan fungsi stabilisasi harga pangan melalui pelaksanaan operasi pasar dengan harga maksimum sama dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku. Dengan situasi harga HPP dibawah harga pasar maka kinerja Bulog saat ini tidak bisa diandalkan, selain kewenangannya tidak kuat, anggaran juga terbatas. Padahal Bulog adalah ujung tombak dalam pencapaian beras nasional. Di samping itu Bulog juga pasif, gudang-gudang Bulog juga banyak yang kosong, Bulog ingin membeli gabah dari petani dengan harga HPP sementara pedagang dan pengepul berani membeli gabah diatas HPP sehingga petani tidak akan mau menjual gabahnya ke Bulog. Dengan kecilnya serapan gabah oleh Bulog akan membuat stok beras pemerintah semakin menipis sehingga akan berdampak pada harga beras di pasaran, kalau kondisi ini terus berlangsung maka akan sulit bagi pemerintah untuk mengendalikan harga beras. Bulog juga akan sulit melakukan operasi pasar, operasi pasar tidak akan bisa dilakukan jika barangnya tidak ada. Kondisi ini akan menjadi dilematis, jangan-jangan ujungnya akan minta impor lagi. *Tonny Saritua Purba, aktivis Praja Muda Beringin
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.