Luthfi.
[caption id="attachment_9405" align="aligncenter" width="640"]
Habib Luthfi dan Airlangga Hartarto dalam acara Halal Bihalal Ulama Nusantara (28/7/2018) (okezone)[/caption]
Habib Luhtfi pun mengatakan bahwa Airlangga adalah sosok yang taat terhadap orang tua. “Karena tali silaturahmi menyambung lagi. Orang yang mentaati cinta dan taat kedua orang tua adalah orang yang menjalin silaturahmi yang dirintis orang tua,” demikian Habib Luthfi menuturkan pertemuannya dengan Airlangga, sebagai upaya Airlangga menyambung tali silturahmi yang telah terjalin sejak bersama ayahnya tersebut.
Tidak sekedar menghadiri acara tersebut, Airlangga pun mengungkapkan hubungannya selama ini dekat dengan ulama dan habib. Airlangga kemudian menyebut bahwa dirinya masih keturunan Ki Ageng Gribig, salah satu ulama penyebar Islam di daerah Klaten, Jawa Tengah.
Semasa hidup salah satu kakeknya itu, demikian diceritakan oleh Airlangga, ketika pulang sehabis menunaikan ibadah haji, Ki Ageng Gribig membawa oleh-oleh berupa kue. Kemudian kue-kue itu dibagikan kepada para murid didikannya. Sayangnya, tidak semua muridnya kebagian kue oleh-oleh tersebut. Sebagai gantinya, dibuatkan kue apem. Kue apem ini pada akhirnya menjadi cikal bakal tradisi yang terus berlanjut hingga saat ini, yaitu tradisi ‘Yaa Qawiyyu’.
Tradisi “sebaran” apem ini menjadi rangkaian perayaan Haul Ki Ageng Gribig yang diperingati setiap tahun. Berdasarkan penanggalan Jawa, Haul tersebut akan jatuh pada 22 Oktober mendatang. Pada kesempatan itu pula Airlangga mengundang kehadiran para habib dan ulama untuk menghadiri acara tersebut. “Seizin Habib Luthfi kami mengundang para habib di Jabodetabek dan Jateng,” demikian ujar Airlangga dengan penuh keramahan.
Nilai tambah Airlangga Hartarto
Gambaran kedekatan Airlangga Hartarto kepada para Habib dan Ulama jelas menjadi nilai tambah yang menaikkan nilai tawarnya sebagai sosok Cawapres Jokowi. Posisinya menjadi kian unik, gabungan empat hal penting yang tidak dimiliki oleh calon lain. Pertama, sosok ketua umum partai besar. Kedua, sosok teknokrat yang mengerti permasalahan serta memiliki solusi untuk mengatasi berbagai masalah bangsa. Ketiga, sosok yang telah duduk di pemerintahan, bekerja bersama dengan Presiden Joko widodo. Keempat, sebagai sosok yang dekat dengan ulama. Hal ini memberikan gambaran sosok ideal, memudahkan kerjasama antara ulama dan umara’ dalam membina umat dan membentuk kerjasama demi terwujudnya negara Indonesia yang adil makmur sejahtera.
Sosok Airlangga Hartarto yang ideal ini pun terbaca oleh habib. Dalam acara tersebut, mulai terlihat sinyal dukungan dari habib dan ulama kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai Cawapres Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang, sebagaimana diungkap oleh Habib Salim.
Selaku tuan rumah, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan menyampaikan dukungannya terhadap Airlangga untuk maju menjadi Calon Wakil Presiden (Cawapres) Jokowi. “Kalau saya pribadi, saya pribadi ya, Pak Jokowi terinspirasi dengan yang muda yang energik partnernya. Mudah-mudahan jalan sama beliau Insya Allah,” demikian Habib Salim mengungkapkan optimismenya.
[caption id="attachment_9406" align="aligncenter" width="670"]
Airlangga dan Habib Salim. (©2018 Liputan6.com/Nafis)[/caption]
Tidak kurang, para habib pun mendoakan Airlangga sebagai Cawapres Jokowi. “Insya Allah apa yang diniatkan beliau dikabulkan Tuhan Yang Maha Esa,” demikian tutur Habib Salim mendoakan sang Ketua Umum Golkar.
Suara Habib Salim bin Ahmad bin Jindan seolah memperlihatkan bahwa Airlangga merupakan sosok pejabat pemerintah (Menteri), politisi (Ketua Umum Partai Golkar), teknokrat (Profesional di bidangnya) yang dekat dengan ulama dan tokoh agama. Secara pribadi,