Jakarta- Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sudharmono lahir di Gresik, Jawa Timur, tanggal 12 Maret 1927. Sejarah mencatat, Sudharmono adalah Wakil Presiden (Wapres) RI ke-5 dan menjadi salah satu orang kepercayaan Soeharto ketika Orde Baru masih berjaya.
Pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru ibarat berkah bagi Sudharmono. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara, Menteri Dalam Negeri, Ketua Umum Golkar, hingga ditunjuk oleh Soeharto yang kala itu sudah berkuasa menjadi presiden untuk mendampinginya sebagai wapres.
Setelah memutuskan untuk berhenti dari pendidikan lanjutan, Sudharmono turut membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang dalam persiapan pembentukan Tentara Nasional Indonesia. Hasilnya, ia menjadi Panglima Divisi Ronggolawe, posisi yang terus dipegangnya selama Perang Kemerdekaan Indonesia melawan pasukan Belanda yang kembali menyerang Indonesia.
Saat Belanda mundur pada tahun 1949, Sudharmono menyelesaikan Pendidikan lanjutan sebelum pergi ke Jakarta pada tahun 1952 untuk bergabung dengan Akademi Hukum Militer. Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1956 sebelum bertugas di Mendan, Sumatra Selatan sebagai Jaksa Militer pada 1957–1961. Pada tahun 1962, Soedharmono memperoleh gelar dalam bidang hukum setelah menyelesaikan studinya di Universitas Hukum Militer. Setelah ini, Sudharmono diangkat Ketua Personil Pesanan Satuan Kerja Pemerintah Pusat dan memberikan bantuan administrasi kepada pemerintah.
Selama Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Presiden Sukarno membentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI), yang merupakan perintah perang segera di bawah kendali Soekarno. Pada tahun 1963, Sudharmono bergabung KOTI dan diberi peran Anggota Pusat Operasi Bersama untuk Operasi Agung.
Awal kiprah Sudharmono terjun ke dunia politik adalah pada saat pengangkatan menjadi Sekretaris Presidium Kabinet pada tahun 1966. Tak butuh waktu lama, Sudharmono diangkat menjadi Sekretariat Negara yang memberikan perhatian kepada Biro Hukum dan Perundang-undangan.
Tahun 1983 Sudharmono dipilih menjadi Ketua Umum Golkar pada Musyawarah Nasional (Munas) III tahun 1983. Terpilihnya Sudharmono membuatnya mendapatkan dua jabatan, karena pada saat dipilih menjadi Ketua Umum Golkar, ia sedang menjalankan tugasnya sebagai Menteri Sekretaris Negara. Sudharmono dikenal sebagai pribadi yang efisien dan efektif dalam bekerja, serta tak pernah menonjolkan diri ke depan publik.
Sebagai Ketua Umum Golkar (1983-1988), Sudharmono membuat kebijakan yaitu Program Tri Sukses Golkar yaitu Sukses Konsolidasi, Sukses Repelita IV dan Sukses Pemilu 1987. Dan terbukti berhasil, suara Golkar meningkat dari 64% menjadi 72% pada Pemili 1987.
Sudharmono bertekad bahwa Golkar akan memperjuangkan terwujudnya pemerintahan yang bersih dan beribawa. Sebagai Ketua Umum Golkar, Sudharmono merupakan sosok pemimpim yang termasuk ke dalam tipe kepemimpinan demokratik, karena ia merupakan sosok pemimpin yang selalu memperhatikan kebutuhan kelompoknya dan mempertimbangkan kesanggupan kelompok dalam mengerjakan tugas serta menerima masukan dan saran dari bawahannya. Hal ini dibuktikan pada saat pengesahan kebijakan Sudharmono saat mejadi Ketua Umum Golkar. Sudharmono selalu menerima saran dalam bekerja, selain itu merupakan sosok yang ramah kepada sesama rekannya sehingga tidak seperti majikan dengan bawahannya.
Setelah selesai masa jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Sudharmono diangkat menjadi Wakil Presiden Indonesia kelima periode 1988-1993 mendampingi Soeharto.