Saat masyarakat Indonesia menikmati pertumbuhan, sejumlah negara justru terperangkap pada zona resesi. Akibat tekanan inflasi yang tinggi, sejumlah negara di kawasan Eropa sudah dibayang-bayangi resesi. Dari Inggris, tersaji ragam kisah pilu akibat melemahnya kinerja perekonomian negeri itu. Selepas pekan kedua November lalu,Menteri Keuangan Inggris, Jeremy Hunt, mengumumkan bahwa negaranya mengalami resesi.
Perbedaan kinerja perekonomian inilah yang mendorong IMF dan Bank Dunia melihat Indonesia sebagai titik terang di tengah wajah dunia yang suram. Pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2023 diproyeksikan maksimal 2,7 persen, lebih rendah dari tahun 2022 yang 3,2 persen. Tentu saja pencapaian Indonesia sepanjang 2022 patut disyukuri oleh semua elemen masyarakat. Sikap bersyukur itu setidaknya sudah tercermin pada tingginya tingkat kepuasan masyarakat atas kerja pemerintah.
Persepsi komunitas global tentang Indonesia pun terus membaik berkat keberhasilan mengemban tugas dan fungsi Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022. Kepemimpinan Indonesia berhasil membangun komitmen global terhadap sejumlah isu strategis. Paling utama adalah mencari rumusan penyelesaian ketegangan geo-politik dan konflik global dengan mengedepankan dialog, diplomasi, dan cara-cara damai.
G20 juga sepakat menanggulangi krisis pangan, serta membantu negara-negara miskin yang rentan menghadapi krisis. Kesepakatan itu diwujudkan melalui program resilience and sustainability trust bernilai 81,6 miliar dolar AS yang dikoordinasikan oleh IMF.
Masih dari forum G20 di Bali, lahir pula kesepakatan berupa upaya pemulihan kesehatan global melalui pengumpulan dana 1,5 miliar dolar AS untuk penanganan pandemi. Kesepakatan lain yang juga sangat penting dan strategis adalah langkah bersama menanggulangi aneka persoalan akibat perubahan iklim dan masalah lingkungan hidup. Pada aspek mekanisme transisi energi, Indonesia memperoleh komitmen senilai 20 miliar dolar AS.
Dari perspektif ekonomi domestik, gelaran G20 juga memberi kontribusi signifikan terhadap PDB yang nilainya Rp.7,4 triliun. Forum ini juga mendorong konsumsi domestik sampai Rp. 1,7 triliun, dan menyerap puluhan ribu tenaga kerja karena terbukanya ratusan lapangan pekerjaan baru, serta mendorong investasi untuk UMKM.
Agar pertumbuhan ekonomi yang impresif itu tetap terjaga, segenap elemen masyarakat diajak menjaga kondusifitas dalam kehidupan berbangsa-bernegara. Dinamika politik nasional sepanjang tahun 2022 sudah relative baik. Persepsi ini sejalan dengan hasil survei Lembaga Survei Indonesia pada Agustus 2022. Sebagian besar responden (74 persen), menurut survei itu, menyatakan kondisi ekonomi dan politik baik atau sedang-sedang saja. Sekitar 17,7 persen responden yang menilai atau berpersepsi negatif. Memang terkesan kecil, namun patut dimaknai sebagai indikasi masih adanya potensi persoalan, sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Harus ada upaya terstruktur dan sistematis agar angka ini tidak semakin membesar.
Kondisi perekonomian dan kehidupan sosial-politik yang relatif stabil pada tahun 2022 menjadi modal penting untuk menyongsong tahun 2023 yang sarat tantangan itu. Untuk alasan itulah semua pihak perlu memberi perhatian ekstra pada beberapa masalah.
Paling utama adalah fakta bahwa tahun 2023 menjadi pintu masuk tahun politik untuk bersiap menyelenggarakan Pemilu serentak dan Pilkada serentak tahun 2024. Sudah menjadi pengalaman bersama bahwa kontestasi politik selalu berpotensi memicu eskalasi ketegangan politik dan rentan menyulut konflik horisontal.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan