Kabargolkar.com - Wakil Ketua Komisi VII DPR Maman Abdurrahman punya formula untuk menghentikan narasi negatif saling hina dengan sebutan cebong versus kadrun yang terus memanas di media sosial (medsos) menjelang Pemilu 2024.
Baginya, narasi ejekan perdebatan seputar cebong versus kadrun sama sekali tidak membangun, karena hinaan itu sama sekali tak berdasarkan data dan konseptual program yang baik untuk pemerintah dan bangsa ke depan.
Maman pun mengajak seluruh pihak, utamanya netizen di media sosial, harus menyudahi saling ejek dengan sebutan cebong versus kadrun. Dia maukan, perdebatan di medsos harus dimulai menjadi lebih konstruktif.
"Sekarang ada yang mau jadi presiden, gubernur, kepala daerah, anggota DPR yang harus kita bagi dua hal saja," kata Maman diwawancarai Kureta saat acara peluncuran survei Voxpol di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Desember 2022.
Hal pertama yang harus diperdebatkan oleh netizen, menurut Maman, yakni soal sepak terjang seseorang yang berupaya menjadi pemimpin, harus disoroti track record-nya.
"Apa yang sudah pernah dia berikan kepada bangsa dan negara ini? Apa yang sudah pernah dikerjakan oleh dia? Apakah dia memiliki pengalaman, kompetensi, dan kemampuan untuk betul-betul atau sudah mengurusi kondisi permasalahan bangsa," ucap politisi Golkar itu.
Kedua, menurut Maman, yang bisa disoroti oleh warganet ialah apa yang ditawarkan oleh seseorang itu sebelum menjadi pemimpin.
Maman menilai apabila ada perdebatan konstruktif di media sosial, maka ruang lini masa menjadi lebih positif.
"Kalau kita masuk ke dalam perdebatan (konstruktif) itu insyaallah jauh lebih positif. Maka kita dorong kepada publik tanya kau sudah ngapain saja, berbuat apa? Pengalaman kau apa di pemerintahan? Lalu, apa yang mau diperbuat ke depan?" tuturnya.
"Jadi, kita juga bisa lihat etalase politik di Indonesia itu orang-orangnya lebih konstruktif ya, perdebatannya lebih berkualitas daripada hanya mengatakan kadrun atau cebong. Menurut saya itu sudahilah," ujar Maman lagi.
Dia pun mengajak semua kelompok, seluruh pihak, baik itu di media massa utamanya juga harus mampu meredam dan menahan narasi cebong versus kadrun ini.
"Tapi kalau ada perdebatan konstruktif yang jauh lebih positif itu harus diketahui banyak orang. Termasuk kita nih elite-elite sudah mulai menahan dan saya harapkan dari media, kelompok ormas, dan sebagainya," ucap dia.
Maman menuturkan, memang pelaku yang memberi ejekan cebong ataupun kadrun hingga kini tidak bisa dijerat pakai pasal pidana, karena itu bukan sebuah bentuk ujaran kebencian terhadap seseorang.
"Tapi kita tahu bahwa itu memiliki implikasi ataupun dampak negatif terhadap masyarakat. Saya pikir sekarang harus muncul kesadaran bersama, kesadaran kolektif saja dari kita semua," kata Maman Abdurrahman. (kureta.id)