Kabar NasionalKabar DaerahKabar ParlemenKabar Karya KekaryaanKabar Sayap GolkarKagol TVKabar PilkadaOpiniKabar KaderKabar KabarKabar KabinetKabar UKMKabar DPPPojok Kagol Kabar Photo
KABAR KADER
Share :
Refleksi Sumpah Pemuda dan ‘Political Disruption’ Generasi Milenial Golkar Hadapi Pemilu 2019
  Kabar Golkar   26 Oktober 2018
[caption id="attachment_14219" align="aligncenter" width="749"] ilustrasi
(MI/Pata Areadi)
[/caption] kabargolkar.comSemangat Kongres Pemuda II 90 tahun lalu masih menggema hingga kini. Pada waktu itu, Kongres Pemuda II merupakan kongres pergerakan pemuda Indonesia yang digelar dua hari pada 27-28 Oktober 1928. Batavia, sebutan Jakarta di masa itu, menjadi tempat perhelatan kegiatan yang nantinya menjadi titik semangat perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia, lewat pembacaan proklamasi hampir 17 tahun kemudian. Kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan pemuda dari berbagai wilayah nusantara penuh dengan gegap semangat memperjuangkan eksistensi kebangsaannya, Bangsa Indonesia. Di dalam Gedung Indonesische Clubgebouw yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 ini, kegiatan kongres pemuda II menjadi salah satu momen bersejarah, dikenang hingga hari ini karena ditempat itu, para peserta kongres berikrar melalui sebuah sumpah pemersatu segenap elemen bangsa. Sumpah yang kini dikenal sebagai ‘Sumpah Pemuda’ ini terdiri dari tiga kalimat sakti: "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia." Sumpah Pemuda tidak hanya sekedar ikrar atau sumpah biasa, melainkan sebuah luapan semangat dan kecintaan yang menegaskan kesetiaan para pemuda Nusantara saat itu terhadap Tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sumpah tersebut menjadi pemicu dan pemersatu semangat heroisme di masyarakat memperjuangkan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk kali pertama, lagu “Indonesia Raya” pun turut diperdengarkan di hadapan para peserta Kongres Pemuda II itu.   Peran penting pemuda mengubah garis sejarah Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak pernah terlepas dari peran pemuda. Di awal abad XX, para pemuda Nusantara mencetuskan pemikiran tentang pentingnya kesadaran dan kebanggaan sebagai sebuah kesatuan bangsa. Pemikiran tersebut merayap dan menjalar ke seluruh pelosok Nusantara, yang pada akhirnya mencetuskan kongres pemuda. Perjuangan pun berlanjut. Kekalahan Jepang di Perang Dunia II menjadi momentum emas yang menghampiri Nusantara untuk terlepas dari belenggu penjajahan bangsa-bangsa. Para pemuda yang mendesak para tokoh perjuangan bangsa waktu itu untuk mempercepat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Peristiwa Rengasdengklok berhasil meyakinkan para tokoh perjuangan untuk segera melakukan hal tersebut. Tak lama, Soekarno dan Muhammad Hatta menjadi tokoh pemuda yang membawa bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, dengan menandatangani teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno. Gejolak pergerakan tahun 1966 juga menempatkan pemuda menjadi motor perubahan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Para Pemuda yang tergabung dalam ratusan kesatuan aksi menuntut perubahan nasional lewat Tri Tuntutan Rakyat yang berisi pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, serta perbaikan ekonomi. Pergerakan tersebut mengantarkan transisi kepemimpinan dari Orde Lama ke Orde Baru dengan harapan perubahan dapat membawa kesejahteraan. Gejolak pemuda tidak berhenti disitu. 32 tahun berselang, pemuda kembali menjadi motor perubahan
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.
About Us - Advertise - Policy - Pedoman Media Cyber - Contact Us - Kabar dari Kader
©2023 Kabar Golkar. All Rights Reserved.