tukar Rupiah terhadap Dollar AS, hingga menyentuh level Rp16 ribu. Pengetatan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah, dan ditambah dengan kenaikan suku bunga yang sangat tinggi justru semakin memperparah kondisi perekonomian yang sudah karut marut. Kepanikan melanda masyarakat, mereka telah kehilangan kepercayaan pada pemerintah dan perbankan. Korupsi, kolusi, nepotisme, serta kemiskinan menyebabkan ketimpangan sosial dan menimbulkan kerusuhan sosial. Rasa ketidakadilan dan ketimpangan yang kian marak mendorong pemuda untuk kembali turun membela kepentingan rakyat. Orde Baru pun tumbang, berganti dengan reformasi.
Peran pemuda di era milenium baru
Lalu bagaimana peran pemuda menghadapi era milenium baru, dimana semuanya bergerak dengan cepat? Di era ini pemuda memiliki peran yang sama sebagai agen perubahan. Bahkan, peran itu semakin penting. Globalisasi yang melanda berbagai bidang memperlihatkan bahwa data dan informasi amat bernilai, membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin maju, siapa pun memiliki kesempatan yang setara.
Lihat saja tokoh-tokoh global seperti Bill Gates (pendiri Microsoft), Steve Jobs (pendiri Apple), Jeff Bezos (pendiri Amazon), Larry Page dan Sergei Brin (pendiri Google), Jack Ma (pendiri Alibaba), Anthony Tan (pendiri Grab) sampai dengan tokoh-tokoh pemuda nasional seperti Nadiem Makarim (pendiri Gojek), William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia), dan Achmad Zaky (pendiri Bukalapak). Mereka semua adalah tokoh muda yang berhasil ‘merusak’ tatanan bisnis yang sudah ada, melakukan disrupsi (disruption) di bidang bisnis dengan memanfaatkan ide, kesempatan dan talenta yang mereka miliki. Disrupsi ini melahirkan potensi bisnis baru, mengalahkan pemain lama, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Semangat perubahan pemuda melahirkan disrupsi politik
‘Business disruption’ atau disrupsi bisnis ini pun merambat ke dunia politik. Barack Obama adalah contoh sukses tokoh muda Amerika Serikat dalam melakukan ‘political disruption’ atau ‘disrupsi politik’ di negaranya. Perjalanan karir politiknya terbilang singkat menuju kursi pemimpin paling berpengaruh di muka Bumi. Walau sejak tahun 1997 hingga 2004, dirinya tiga kali mewakili Distrik ke-13 di Senat Illinois, namun tidak lolos ke tahap Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat tahun 2000. Baru pada tahun 2005 Obama akhirnya terpilih sebagai senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Pada tahun 2009 di usianya yang ke 44 tahun, Barack Obama berhasil memenangi pemilihan Presiden Amerika. Dirinya mengalahkan tokoh-tokoh yang sudah mapan dalam politik seperti Senator New York dan mantan Ibu Negara Hilary Clinton dan rival dari Partai Republik, Senator John McCain.
Keberhasilan Barack Obama sebagai tokoh muda mendobrak kemapanan politik di negeri Paman Sam lantas menjalar ke seluruh dunia. Lihat saja, banyak tokoh muda dunia yang menjadi pemimpin di negaranya. Emmanuel Macron (PM Perancis, usia 37 tahun waktu dilantik), Justin Trudeau (PM Kanada, 44 tahun), Katrín Jakobsdóttir (PM Islandia, 41 tahun), Volodymyr Borysovych Groysman (PM Ukraina, 38 tahun), Aleksis Tsipras (PM Yunani, 35 tahun ), Juri Ratas (PM Estonia, 38 tahun), Sebastian Kurz (PM Austria, 31 tahun), Giorgi Margvelashvilli (Presiden Georgia, 44 Tahun), Andrzej Duda (Presiden Polandia, 43 Tahun), Yousef Chahed (PM Tunisia 40 tahun) adalah beberapa contoh. Indonesia pun tak ketinggalan. Joko Widodo (umur 53 tahun waktu dilantik) dianggap sebagai tokoh yang mampu mendobrak kemapanan (atau stagnasi) kepemimpinan politik di Indonesia. Kemenangan Anies Baswedan (umur48 tahun waktu dilantik) dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta juga dapat dilihat sebagai disrupsi politik, sebuah proses perubahan
Kabar Golkar adalah media resmi Internal Partai Golkar. kami memberikan layanan media online, media monitoring dan kampanye digital politik untuk Partai Golkar dan seluruh kadernya.