Kabargolkar.com – Kampus merupakan tempat menempuh jenjang pendidikan tinggi yang menjadi salah satu pilihan siswa-siswi setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan harapan dapat mengembangkan diri baik dari segi ilmu mapun pengalaman. Seiring dengan penerimaan mahasiswa baru beberapa agenda penyambutan pun diselenggarakan baik dari pihak Universitas maupun dari pihak Fakultas yang tak luput menggelar kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK).
Namun tak jarang kegiatan OSPEK ini menjadi ajang bagi mahasiswa tingkat atas atau senior untuk membentak, menjahili, ataupun bahkan melakukan tindak kekerasan bermoduskan melatih mental. Alih-alih pendidikan mental, tak jarang senior kampus sering melakukan tindakan kekerasan yang tak masuk akal.
Melalui akun media sosialnya, politisi dari Partai Golkar, Rizky Maulana, turut angkat bicara terkait masih banyaknya praktik kekerasan atau perpeloncoan di dunia pendidikan. Ia merasa aneh dengan zaman yang sudah maju masih adanya praktik-praktik kekerasan yang kerap dilakukan para senior.
"Kampus sejatinya menjadi laboratorium untuk mencetak SDM yang berkualitas, sudah bukan zamannya mempraktikkan senioritas, melakukan penindasan, dan aksi kekerasan lainnya. Seluruh institusi pendidikan harus membuat ruang-ruang positif dimana tiap individu merasa diterima dan dihargai." keterangan tertulisnya saat dihubungi via Whatsapp oleh tim KabarGolkar.com pada Selasa, (30/5/23).
Praktik perpeloncoan di Indonesia telah ada sejak zaman dahulu bahkan bagian dari budaya kolonial Belanda, namun seakan-akan masih lestari didunia pendidikan Indonesia hingga hari ini.
“Senior di kampus melampiaskan dendamnya saat dulu menjadi mahasiswa baru yang mungkin pernah diperlakukan dengan tidak baik juga oleh senior sebelumnya, sehingga memiliki mind set bahwa juniornya harus mengalami yang sama seperti dirinya.” tutur Waketum DPP AMPI.