[caption id="attachment_14976" align="aligncenter" width="1280"]
ilustrasi (kabargolkar.com)[/caption]
Kabargolkar.com - Kegemilangan pasukan Inggris dalam menghadapi tentara Jerman dalam Perang Dunia II tidak memiliki arti apapun di Surabaya. Sebagai informasi, Inggris tak kehilangan jenderalnya selama perang tersebut. Kegemilangan itu berubah 180 derajat menghadapi perlawanan para pejuang di Surabaya.
Pasukan Inggris tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang dan menegakkan kembali pemerintahan kolonialisme Belanda. Namun, niat itu berubah menjadi mimpi buruk. Tepatnya pada 30 Oktober 1945, atau lima hari setelah kedatangannya di Kota Pahlawan, seorang jenderal Inggris terbunuh, yaitu Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby.
Pada 25 Oktober 1945, Brigjen Mallaby dengan pasukannya menjejakkan kaki di Surabaya. Pasukannya. Brigade 49, demikian pasukan tersebut dikenal, berjumlah sekitar 6.000 pasukan dan merupakan bagian dari Divisi 23 Pasukan Inggris yang dikenal dengan julukan 'The Fighting Cock'. Dengan pengalaman tempur mengalahkan tentara Jepang di hutan Myanmar, pertempuran sengit di Semenanjung Malaya serta memenangkan perang melawan tentara Jerman di Afrika utara dibawah pimpinan Jenderal Rommell. Sungguh, pasukan tersebut memiliki jam tempur pengalaman perang yang luar biasa.
Lahir pada 12 Desember 1899, sebagai seorang perwira muda eksekutif Kerajaan Inggris, karier Mallaby boleh dibilang cukup cemerlang. Mallaby muda terkenal terampil dalam menjalankan segala macam penugasan. Di usia 42 tahun, mendapat promosi jenderal berbintang satu. Brigjen Mallaby menjabat perwira staf kepercayaan Laksamana Mountbatten, panglima tertinggi atas Komando Asia Tenggara (South East Asia Command/SEAC) selama berjalannya PD II.
[caption id="" align="aligncenter" width="646"]
Mallaby di meja kerjanya (foto: collection.nam.ac.uk)[/caption]
Sayangnya, karir cemerlang itu ditutup pada usia menjelang ulang tahun ke-46. Berlokasi di Jembatan Merah, Surabaya, ajal menjemputnya.
Sesuai dengan isi Perjanjian Yalta, Mallaby bersama pasukannya adalah bagian dari Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). AFNEI dikirim ke Indonesia setelah selesainya PD II untuk melucuti persenjataan balatentara Jepang dan membebaskan tawanan perang Dai Nippon. Serta, mengembalikan Indonesia kembali menjadi Hindia Belanda kekuasaan Belanda di bawah administrasi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).
Ternyata, tujuan ini mendapat perlawanan dari pasukan Indonesia karena AFNEI menuntut mereka menyerahkan senjata-senjata yang telah dirampas pihak Indonesia terlebih dahulu dari Jepang.
selanjutnya:
Tewasnya Mallaby
Tewasnya Mallaby
Konflik bersenjata antara pasukan Inggris dan pejuang di Surabaya pun tidak terelakkan. Pada 30 Oktober 1945 di dekat Jembatan Merah, Surabaya Brigjen Mallaby dan pasukannya melintas, dan disaat yang sama, para pejuang Indonesia pun hendak melintasi jembatan tersebut. Terjadilah pertempuran sengit, mobil Buick yang ditumpangi Mallaby dicegat oleh para pejuang Indonesia.
[caption id="attachment_14977" align="aligncenter" width="768"]
foto: net[/caption]
Menurut salah satu versi, Mallaby tewas oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil Mallaby akibat ledakan sebuah granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali