Masyarakat khawatir keterbelahan dan polarisasi seperti 2019 terjadi lagi di 2024. Bagaimana pendapat Bapak?
Kekhawatiran itu tetap ada dan harus tetap kita pelihara supaya kita jangan merasa aman-aman saja. Tetapi saya agak optimistis dan kita terus berdoa kejadian 2019 tidak akan terulang. Saya kira di level elite kesadaran itu sudah cukup tinggi. Semua ketua umum parpol punya kesadaran yang sama, bahwa kita tidak boleh mengalami kembali kejadian seperti 1019. Keterbelahan ini ada dua, pertama antar elite yang sibuk sendiri dan masyarakat jadi penonton. Padahal elite itu adalah para teladan bagi masyarakat. Yang kedua, ada pertarungan di bawah yang tidak diselesaikan oleh para elite. Alhamdulillah kita dibantu oleh media, enggak ada lagi yang bisa disembunyikan sekarang dan menjadi political education buat masyarakat. Masyarakat dididik bahwa berbeda itu tidak apa-apa, toh berbedanya khan cuma 14 Februari saja atau dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Setelah itu, ya kita sama-sama lagi aja seperti biasa tidak perlu ada lagi yang harus dibedakan.
Pesan yang ingin disampaikan?
Saya menyampaikan pesan buat masyarakat, kalau kita berbeda terus-menerus energi kita akan terkuras dan kontra produktif. Yang harusnya energi kita dibuat untuk membangun Indonesia. Jangan sia-siakan energi kita untuk saling membenci sesama saudara kita. Selain dilarang oleh keyakinan kita masing-masing dan itu merugikan bangsa kita. Satu lagi, buat saya pemilu adalah kendaraan bagi kita untuk menuju kepada situasi dan keadaan yang lebih maju, lebih baik, dan lebih membangun. Jadi kita anggap pemilu ini media untuk mencapai kebaikan dan kita isi dengan kebaikan-kebaikan.