Pemerintah Resmikan Smelter Gresik, Telan Investasi Rp 58 Triliun PTFI Penuhi Komitmen Bangun Proyek Tepat Waktu
Resmi Beroprasi : Dari kiri, Presdir PTFI Tony Wenas, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Dirjen Minerba Bambang S, Pj Sekda Prov Jatim dan Bupati Fandi A Yani (Muhammad Firman Syah)
Raut bahagia tampak diwajah Menteri Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto saat
melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gresik dalam rangka peresmian operasional Smelter PT Freeport Indonesia. Rasa bahagia dan puas itu bahkan disampaikan langsung oleh Airlangga kepada manajemen PT Freeport Indonesia yang telah berhasil menyelesaikan pembangunan proyek Smelter dalam kurun waktu tepat waktu.
Dalam sambutannya, Menko Airlangga mengaku bangga karena proyek Smelter PTFI di Gresik bisa selesai sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan oleh pemerintah. Bahkan, Airlangga meyakini jika Smelter PTFI kedepan akan menjadi pabrik yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional ditengah penggunaan renewable energy (energi terbarukan) mulai menjadi trend dunia.
"Copper merupakan bagian dari perubahan energi kedepan. Jadi kita harus bangga proyek Extraordinary ini berhasil dalam kurun waktu yang sangat tepat. Ini sangat hebat," tegas Menko Airlangga.
Dia menuturkan, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mulai membahas program hilirisasi nasional pada era tahun 2000-an silam. Baru pada tahun 2004 terbentuklah Undang-undang (UU) Minerba yang mengatur tentang hilirisasi. Meski demikian, aturan tersebut tidak bisa direalisasikan secara langsung karena berbagai kendala yang dihadapi oleh pemerintah. Nah, barulah saat presiden Joko Widodo dilantik Pemerintah secara tegas menjalankan produk UU Minerba sebagai salah satu strategi dalam penguatan perekonomian nasional.
"Proyek Smelter PTFI merupakan sebuah legacy dari Presiden Joko Widodo dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dimata dunia serta mendorong pertumbuhan di dalam negeri. Kami berharap nanti bulan Agustus atau September proyek ini bisa diresmikan oleh pak presiden disaat kegiatan operasi dan produksi sudah berjalan," imbuhnya.
Lebih lanjut Menko Airlangga mengungkapkan, beroprasinya Smelter PTFI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik ini akan mendorong hadirnya industri berbasis produk yang dihasilkan PTFI. Seperti industri baterai, kabel maupun power generation. Dirincikan, saat ini tercatat ada sejumlah industri yang telah melakukan kontruksi di KEK Gresik.
Diantaranya, PT Hailiyang Nova Mineral, PT Xinyi Solar Indonesia dan PT Ambercycle Advanced Materials Indonesia. Hadirnya industri baru di kota santri ini tentu tidak hanya berdampak besar pada tersedianya lapangan pekerjaan, melainkan juga memberikan kontribusi pendapatan kepada negara dan daerah maupun mendorong aktivitas pelaku usaha masyarakat lokal.
"Banyaknya industri baru yang membangun di Gresik juga harus kita manfaatkan sebagai penguatan aktivitas ekspor. Nantinya Smelter ini juga akan menghasilkan perak dan emas yang royaltinya menjadi pendapatan bagi negara. Dengan pertumbuhan ekspor ini diharapkan bisa membuat rupiah semakin stabil. Jadi penguatan dollar harus dimanfaatkan untuk penguatan ekspor," tandasnya.
Ditempat yang sama, Menteri Investasi RI, Bahlil Lahadalia mengungkapkan jika pembangunan proyek Smelter PTFI di Gresik merupakan perkara yang tidak gampang. Bahkan saat awal perencanaan muncul beragam dinamika agar proyek ini digeser ke Maluku Utara atau Papua. Namun pemerintah bersama PTFI melakukan berbagai kajian dan melihat dari beragamaspek sehingga diputuskan proyek ini dibangun di Gresik.